Sabtu, 18 Nopember 2017

Harga Jual Anjlok, Petani Coklat di Malang Merana

Selasa, 12 September 2017 13:49:45 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Harga Jual Anjlok, Petani Coklat di Malang Merana

Malang (beritajatim.com) - Dalam beberapa pekan terakhir harga jual komoditi Kakao (Coklat-red) di Kabupaten Malang, turun drastis.

Penurunan harga jual tanaman coklat di tempat ini, membuat para petani Kakao pun merana.
Sekedar informasi, sebaran tanaman coklat oleh petani berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Dampit, Kecamatan Tirtoyudo dan Kecamatan Ampelgading.

Sudah sejak puluhan tahun lamanya, komoditi Kakao dari wilayah Malang Selatan ini, menjadi primadona ditingkat pasar.

Selain kualitas Kakao sangat baik, produksi tanaman coklat yang dihasilkan petani ditempat itu, berkualitas tinggi hingga tersohor hingga ke tingkat mancanegara. Namun faktanya, hal itu tak sebanding dengan keuntungan yang dirasakan petani coklat beberapa pekan terakhir.

"Kondisinya sangat memprihatinkan. Kakao petani rakyat satu kilogramnya hanya dihargai Rp 16 ribu oleh tengkulak. Padahal harga bisa sampai Rp 34 ribu untuk kakao asalan," ungkap Yohannes, Selasa(12/9/2017), seorang Mantri Tani dari Kecamatan Sumbermanjing Wetan yang juga seorang petani coklat itu.

Menurutnya, harga Kakao petani rakyat yang jadi mainan para tengkulak, terjadi setiap kali masuk masa panen.

Para tengkulak ini biasanya mendatangi langsung tanaman coklat milik para petani. Melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, kondisi tersebut disikapi dengan cara melakukan penguatan sumber daya manusia petani Kakao yang ada.

Selama ini, lanjut Yohanes, ada pendampingan dari Gabungan Pengusaha Ekespor Indonesia (GPEI). Pendampingan itu kata Yohannes, tentunya akan membuat petani Kakao kembali bergairah untuk berbudidaya kakao kembali.

Setelah kakao dijadikan sampingan bertani, sentuhan Pemkab Malang dengan GPEI akan berpengaruh besar bagi pengembangan ekonomi kerakyatan dan tentunya daerah.

"Saya optimis masa kejayaan Kakao akan kembali. Petani itu gampang, kalau ada hasil yang menguntungkan pasti cepat berubahnya," beber Yohannes.

Ia mencontohkan, petani Kakao bisa mengejar kebutuhan pasar Jawa Timur (Jatim), asalkan adanya jaminan bahwa produknya bisa laku dengan harga sesuai standar kualitas yang dihasilkannya.

Pun, mengenai penjualan yang selama ini dimainkan para tengkulak yang notabene memiliki jaringan pasar yang kuat, bisa dihadapi petani rakyat.

"Sekali lagi, petani hanya butuh kepastian dan jaminan. Dan ini sekarang sudah difasilitasi dan berjalan sampai 4 tahun ke depan nanti. Saya optimis kejayaan kakao kembali," terangnya.

Yohanes menambahkan, political will Pemkab Malang juga sangat baik terhadap petani. Hal ini terlihat dari beberapa bantuan yang telah dilakukan, seperti bantuan bibit, pupuk, mesin pertanian.

Tapi, dengan keterlibatan secara langsung pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap petani Kakao, akan menjadi kekuatan besar. Khususnya, dalam meminimalisir para tengkulak  yang membuat petani kakao beralih menjadi petani tebu dan lainnya. Efeknya lahan kakao sekuas 1015 hektar,  kini tinggal 100 hektar di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
"Saat petani diberi penguatan dan kepastian, saya yakin akan kembali lagi ke tanaman coklat," pungkasnya. (yog/ted)

Tag : coklat

Komentar

?>