Sabtu, 18 Nopember 2017

Emha Ainun Nadjib Bicara tentang Rokok

Sabtu, 09 September 2017 18:44:08 WIB
Reporter : Misti P.
Emha Ainun Nadjib Bicara tentang Rokok

Mojokerto (beritajatim.com) - Paguyuban Mitra Produsen Sigaret Indonesia (MPSI) mengundang Cak Nun dan Kyai Kanjeng untuk berdoa bersama di pabrik rokok yang berada di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (9/9/2017). Doa bersama tersebut dilakukan menyusul rencana pemerintah menaikkan tarif cukai rokok.

Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun ini menuturkan, semua sektor mengalami penganiayaan regulasi. "Jadi negara kita terlalu besar sehingga belum pernah ada pemerintah dengan tingkat managerial yang matang dan komprehensif. Jadi salah kelola, oyot (akar) dan pangkalnya belum mengakar benar dengan selusuh persoalan masyarakat," ungkapnya.

Menurut suami Novia Kolopaking ini, semua menimpa semua sektar dan rokok yang paling teraniaya. Cak Nun mencontohkan, perusahaan rokok ibaratnya ayam yang tidak diberi makan tapi harus bertelur. Pemerintah mengambil defisa negara melalui pita cukai rokok sampai 70 persen, menurutnya hal tersebut terjadi karena salah mengelola.

"Aku tinggal menyampaikan kepada Tuhan, ini lho ciptaan Sampeyan dielek-elekno (dijelek-jelekan) dengan segala akibatnya yang tidak tertampung. Karena salah kelola secara teknis menagerial, pemerintah tidak lengkap cara berfikir dan niatnya bukan membuat regulasi untuk rakyat, tidak mengabdi kepada rakyat, tidak mengabdi kepada pancasila," ucapnya.

Menurutnya, saat ini pemerintah mengurus materialisme tetapi tiap hari menciptakan masalah materiil. Yang punya usaha dan rokok yang paling susah dan nantinya, lanjut Cak Nun, rokok menjadi milik orang lain. Cak Nun menegaskan, tidak ada solusi parsial tapi solusi nasional sehingga semua harus hati-hati dalam memilih pemimpin.

"Endas ngelu, endas e (kepala pusing, kepalanya) dipijeti tidak hilang karena yang sakit perut. Solusinya hati-hati milih presiden, manteri, DPR yang matang, yang pakai pertimbangan gimana menjadi pemimpin. Mau angkut damen saja pilih angkutannya. Saya tidak punya tugas apa-apa, siapa saya. Saat ngomong gini karena anda tanya," tegasnya.

Sehingga ia dan Kyai Kanjeng hanya bisa berdoa karena tidak ada cara lain yang bisa dihitung bersama dan ada mudhorot nya. Menurutnya, ia tidak punya potensi untuk melakukan revolusi, namun ia bisa mengumpulkan massa jika memang ingin. Cak Nun menegaskan, dalam waktu satu jam ia bisa mengumpulkan 5 ribu orang di berbagai kabupaten/kota.

"Saya bisa mengumpulkan 5 ribu per kabupaten, cukup WA (whatsapp) satu dan menyebar tapi saya tidak pernah melakukan gerakan politik yang merusak kekuasaan. Saya panya pengalaman 98, 66, gerakan itu selalu lebih besar pasak daripada tiang. Makin lama, kita makin sumbu pendek sehingga makin tidak kondustif. Saya tidak bisa mengatasi Indonesia, kecuali saya dipercaya dan dibantu," tuturnya.

Cak Nun menambahkan, jika ada orang yang teraniaya, ia selalu bersamanya karena ia tidak punya agenda dan cita-cita apapun. Sementara niat pejabat tidak mengurusi rakyat, hanya menguntungkan diri sendiri. Niatnya datang bukan untuk abdi rakyat sehingga ia pun tidak bisa memberikan saran apapun kepada pemerintah.

"Namamya saja karier maka saya tidak panya karier, saya buang semua. Saya bisa menolong orang, jika bisa. Tidak bisa pemerintah dikasih saran karena tidak ada niat kesana, ayat Qur'an yang jelas saja tidak dilakoni (dijalankan). Siapa saya? Orang di dunia tidak mencari benar atau salah tapi yang dicari adalah keuntungan, maka boleh memanulasi, boleh bohong, boleh melanggar ilmu," ujarnya.

Padahal, lanjut Cak Nun, tembakau dan rokok bisa dibicarakan dari beberapa hal. Karena perusahaan rokok tidak bisa usaha sendiri karena tidak bisa mandiri. Cak Nun menegaskan, jika rokok kuncinya persaingan dagang antara nikotin dan farmasi. Semua sudah global dan sudah menguasai semuanya, WHO, Kementerian Kesehatan, agama dan lainnya.

"Setiap manusia harus tahu sehat atau tidak, yang tahu manusianya bukan produknya. Yang salah filosofi kita, dokter itu konsultan, kita yang tahu diri kita sendiri. Sehingga kita selama ini tergantung dokter tapi kalau kanu menjelek-jelekan rokok maka saya merokok maka saya akan belani, siapa saja yang teraniaya, saya cenderung menemani dia," terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban MPS-I, Djoko Wahyudi menuturkan, sosok Ainun Najid mempunyai tersendiri. "Sosok Cak Nun bukan tentang rokoknya tapi nilai sikapnya terhadap rokok jadi lain, orang jadi berfikir lain," pungkasnya. [tin/but]

Tag : rokok

Komentar

?>