Sabtu, 22 September 2018

Dihantui Pajak, Ribuan Ton Gula Petani Tak Laku Dijual

Senin, 21 Agustus 2017 21:16:00 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Dihantui Pajak, Ribuan Ton Gula Petani Tak Laku Dijual
foto/ilustrasi

Jombang (beritajatim.com) - Nasib petani tebu tak semanis gula. Betapa tidak, meski sudah melakukan giling sejak Juli lalu, namun hasil produksi mereka tak laku dijual. Ribuan ton gula masih mangkrak di gudang.

Salah satu penyebabnya adalah adanya aturan pajak 10 persen untuk komoditas tersebut. Nah, para pembeli enggan memborong gula petani karena takut kena pajak. Demikian juga petani, dengan harga lelang sekitar Rp9 ribu per kilogram, petani sangat berat jika harus menanggung pajak.

"Karena itulah hingga saat ini gula petani di Jatim tak laku dijual. Mulai giling Juli 2017, hanya terserap 25 persen di pasaran. Selebihnya, terpaksa parkir di gudang," kata Wakil Ketua DPD (Dewan Pengurus Daerah) APTRI (Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia) PT Perkebunan Nusantara X Jatim Suprayitno, usai melakukan koordinasi dengan petani tebu di Jombang, Senin (21/8/2017).

Suprayitno mengatakan, hasil produksi gula di Jatim mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sementara penyerapan di Jatim sekitar 480 ribu ton per tahun. Nah, selebihnya untuk memenuhi kebutuhan gula di luar Jawa.

Sejak buka giling mulai Juli atau empat periode berjalan, gula petani yang terjual baru dua periode, yakni sekitar 25 persen atau 160 ribu ton. Sementara gula hasil giling dua periode lagi masih mangkrak di gudang karena tak laku dijual. Jumlahnya mencapai ribuan ton.

"Selain karena adanya pajak 10 persen untuk gula, tidak lakunya komoditas tersebut karena masih membanjirnya gula kristal putih impor di pasaran. Para pembeli takut kena pajak 10 persen, makanya mereka tidak mau membeli gula petani," katanya mengulang.

Oleh karen itu, lanjut Suprayitno, petani tebu Jatim akan demo ke istana pada 28 Agustus. Namun sebelumnya akan melakukan aksi damai di masing-masing pabrik gula pada 24 Agustus. Aksi tersebut dilakukan dengan cara memarkir truk tebu di jalan menuju pabrik gula.

"Demo kita menuntut pencabutan PPN 10 persen. Kemudian meminta pemerintah melakukan moratorium gula kristal putih impor atau yang dulu disebut gula rafinasi. Karena dua hal itulah yang membuat nasih petani tebu semakin terpuruk," pungkas Suprayitno yang didampingi sejumlah petani tebu Jombang. [suf]

Komentar

?>