Jum'at, 15 Desember 2017

Begini Strategi Petani dan KTG Atasi Kelangkaan Garam

Sabtu, 12 Agustus 2017 16:23:28 WIB
Reporter : Deni Ali Setiono
Begini Strategi Petani dan KTG Atasi Kelangkaan Garam

Lamongan (beritajatim.com) - Imbas kelangkaan garam di tanah air sangat dirasakan oleh masyarakat. Untuk mengatasi hal itu, sejumlah petani garam di Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Lamongan dan produsen plastik PT Kencana Tiara Gemilang (KTG), serta Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang melakukan percobaan sistem prisma garam.

Uji coba prisma garam adalah memanfaatkan iklim laut dalam proses evaporasi garam sekaligus meningkatkan kualitas garam. Sehingga, produktivitas atau masa panen bisa naik 3-4 kali dalam setahun.

General Manager PT  Kencana  Tiara Gemilang (KTG) selaku produsen plastik geomembrane dan agriculture, Eliana Widijansih menuturkan, fenomena kelangkaan garam tidak selaras dengan potensi laut di tanah air. Padahal, iklim laut banyak manfaatnya. Berdasarkan
penelitian sudah dilakukan tahun lalu terhadap petani garam di Desa Sedayu Lawas cukup berhasil bagaimana mengatasi curah hujan saat proses pembuatan garam.

"Tahun lalu penelitian kami bersama petani garam serta dukungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan beserta Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Unibraw Malang berhasil membuat sistem prisma garam. Dari hasil penelitian itu, produktivitas bisa naik 3-4 kali lipat dalam setahun dengan kualitas yang lebih bersih," tuturnya, Sabtu (12/08/2017).

Diakui Eliana, dengan metode sistem tersebut kesimpulannya. Sistem prisma garam mampu menyerap panas, dan melindungi curah hujan. Selain itu, sistem itu bisa meminimalisasi resiko debu dan kotoran.

"Sistem yang kami gunakan memodifikasi dari sistem greenhouse untuk kepentingan evaporasi air laut menjadi kristal garam dengan memanfaatkan angin dan humiditas udara. Material prisma garam menggunakan plastik geomembrane yang khusus didesain untuk kepentingan evaporasi garam," tuturnya.

Sebelumnya, berdasarkan data Kementrian Kelautan & Perikanan produksi garam tahun ini ditarget 3,1 juta ton. Tapi, kenyataannya baru mencapai 114 ribu ton. Sedangkan tahun lalu produksi garam mencapai 2,4 juta ton.

Dari semua itu, jika petani garam menggunakan metode sistem prisma garam. Hasilnya, perhari diklaim bisa menghasilkan panen 50 kilo dalam 1 hektar. Dalam setahun petani garam mampu menghasilkan panen garam 3 hingga 4 kali panen.
"Asal kalau dikelolah dengan baik seharusnya Indonesia bisa mengekspor. Bukan sebaliknya malah impor," ungkap Eliana.

Sementara, Arifin Jamian petani garam yang menggunakan sistem prisma garam mengatakan, dirinya sejak 2014 sudah menerapkan sistem ini. Hasilnya, panen pertama mampu menghasilkan garam industri yang memiliki ketebalan 10 cm.

"Sebulan bisa dipanen lebih dari dua kali. Jadi yang menentukan baik buruk kualitas garam tergantung orangnya bukan lahannya. Kami bisa panen 400 ton per hektar dalam setahun," katanya.

Wakil Dekan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan  Unibraw Malang, Guntur menyatakan percobaan sistem prisma garam ini bisa dijadikan contoh bukan hanya sebentar. Tetapi akan terus diteliti dan diamati setiap saat dengan melibatkan mahasiswa. Termasuk irigasinya juga. "Mahasiswa di fakultas kami libatkan secara langsung agar penelitian ini bisa dikembangkan lagi," tandasnya. [dny/kun]

Tag : garam lamongan

Komentar

?>