Selasa, 24 Oktober 2017

Industri Keuangan Subur, Sektor Riil Mengering

Kamis, 20 Juli 2017 09:39:43 WIB
Reporter : -
Industri Keuangan Subur, Sektor Riil Mengering

Jakarta (beritajatim.com) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti ketimpangan sektor keuangan, khususnya intermediasi perbankan yang belum optimal. Akibatnya sektor riil tidak berkembang.

"Saat sektor riil menurun, sektor keuangan malah tumbuh," kata Enny Sri Hartai, Direktur Indef dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Di saat sektor riil mengalami penurunan pertumbuhan, kata Enny, sektor jasa keuangan memang mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada triwulan II-2016, industri pengolahan hanya tumbuh 4,6% (yoy) dan pertanian tumbuh 3,4% (yoy), sementara jasa keuangan justru mencatat rekor tumbuh di atas 13,5%.

Hal tersebut, lanjut Enny, mengindikasikan bahwa pertumbuhan jasa keuangan dan sektor riil, tidak memiliki korelasi positif. Jurang antara sektor riil dan keuangan terjadi karena profil risiko sektor riil cenderung lebih besar. Sementara perputaran uang sangat lama.

Di sektor keuangan sendiri, instrumen seperti deposito dan surat utang menawarkan imbal hasil yang tinggi dengan risiko rendah. Investor akhirnya lebih memilih investasi di sektor keuangan.

Selain itu, ketimpangan juga terlihat dari sisi simpanan perbankan, di mana 97,9% rekening hanya menguasai 14,04% dari total simpanan. Sementara 0,04% rekening menguasai 46,99% total simpanan. "Persoalannya, ternyata separuh simpanan di perbankan kita hanya dimiliki oleh 0,04 persen pemilik rekening tersebut," ujar Enny.

Enny melanjutkan, besarnya ketimpangan simpanan sendiri berkaitan dengan preferensi perbankan dalam memberikan bunga ke nasabah kakap, salah satunya melalui suku bunga deposito spesial atau special rate. Sementara itu, bagi nasabah kecil dari latar belakang masyarakat berpenghasilan rendah diberikan bunga yang rendah ketika menabung. [inilah.com]

Tag : perekonomian

Komentar

?>