Selasa, 24 Oktober 2017

Wisata, Jawaban Atas Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi Jember

Kamis, 20 Juli 2017 02:06:12 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Wisata, Jawaban Atas Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi Jember
foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) - Fraksi Amanat Pembangunan DPRD Jember menilai, pariwisata adalah jawaban tepat atas melambatnya pertumbuhan ekonomi kota itu.

Lambatnya pertumbuhan ekonomi ini terkait dengan tingkat pengangguran di Jember. "Data statistik menunjukkan (angka pengangguran) 4,77 persen pada 2015 dan ini tren terus naik tiap tahun. Di samping itu angka kemiskinan juga masih tinggi pada 2015, mencapai 11,22 persen," kata juru bicara Fraksi AP Lilik Niamah, dalam sidang paripurna pandangan umum fraksi terhadap Nota Pengantar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021, di gedung DPRD Jember, Rabu (19/7/2017).

Fraksi Amanat Pembangunan mendorong penetapan kabupaten Jember sebagai lokasi sasaran pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) bidang kepariwisataan. "Sejak awal kami sangat menginginkan bidang kepariwisataan menjadi daya ungkit perekonomian Kabupaten Jember," kata Lilik.

Lilik mengingatkan, bahwa Kementerian Pariwisata mengeluarkan surat keputusan yang menjadikan Jember sebagai Kota Karnaval. "Tentu ini patut menjadi apresiasi kita dan menjadi bagian energi kita untuk membangun perekonomian Jember ke depan," katanya.

Desa dan pesantren bisa dilibatkan dalam pembangunan sektor pariwisata. "Jumlah desa kita 248 dan jumlah pesantren kita jauh melebihi jumlah desa. Tentu sumber daya manusianya bisa kita integrasikan dengan kawasan ekonomi khusus," kata Lilik.

Kehadiran wisatawan domestik dan non domestik dapat menggerakkan perekonomian masyarakat Jember. "Muncul sebuah usulan kepada pemerintah daerah untuk membuat semacam kampung atau desa wisata dengan ikon – ikon tertentu yang bisa dikreasikan sendiri oleh masing-masing desa, sesuai dengan sumber daya yang dimiliki," kata Lilik.

Lilik mencontohkan kampung kaligrafi atau desa kaligrafi. "Jember sejak awal terkenal dengan sebutan 'Jember Kota Santri, Jember Kota Pesantren'  dan 'Jember Kota Seribu Masjid'," katanya.

Di desa, badan usaha harus dibangun untuk sektor ekowisata. "Ekowisata baru dengan keunggulan masing-masing seperti daerah Panti, Ledokombo, Karangbayat, Harjomulyo dan banyak lagi daerah yang tersembunyi dengan topografi luar biasa. Ini bisa dijadikan daya tarik tersendiri," kata Lilik.

"Tentu  untuk mewujudkan hal tersebut butuh sentuhan-sentuhan infrastruktur yang begitu besar. Itu butuh kerjasama dengan pihak-pihak yang lain, baik dengan masyarakat maupun investor domestik atau asing," kata Lilik.

Jika ini berhasil, sedikit banyak ini akan menjawab problem pembangunan di Jember. Apalagi Bupati Faida punya misi meningkatkan pembangunan ekonomi kerakyatan yang mandiri dan berdaya saing, berbasis agrobisnis atau agroindustri dan industrialisasi secara berkelanjutan. [wir/suf]

Tag : perekonomian

Komentar

?>