Senin, 24 Juli 2017

Kemiskinan Bojonegoro Turun, Sayangnya Kesenjangan Kian Lebar

Selasa, 13 Juni 2017 11:33:47 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Kemiskinan Bojonegoro Turun, Sayangnya Kesenjangan Kian Lebar
Foto Ilustrasi

Bojonegoro (beritajatim.com) - Angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan. Namun, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan justru mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal itu sesuai dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2016.

Servei menunjukan, tahun 2015 angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro, sebesar 15.71 persen, turun di tahun 2016 menjadi 14.60 persen. Adanya penurunan kemiskinan ini, membuat Kabupaten Bojonegoro keluar dari 10 kabupaten/kota termiskin di Jawa Timur.

Pada tahun 2015 Kabupaten Bojonegoro masuk dalam peringkat kedelapan kabupaten/kota termiskin, dan pada tahun 2016 menjadi peringkat sebelas termiskin dari kabupaten/kota se-Jawa Timur.

"Dari data BPS yang terbaru, memang ada penurunan kemiskinan di Bojonegoro, sebesar 1.11 persen," kata Direktur Bojonegoro Institute, Aw. Saiful Huda, Selasa (13/6/2017).

Namun Aw menambahkan, meskipun angka kemiskinan menurun, tetapi untuk indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan justru mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Indeks kedalaman kemiskinan, sebesar 2.01 persen (2015) menjadi 2.41 persen (2016). Sedangkan indeks keparahan kemiskinan, sebesar 0.42 persen (2015) menjadi 0.54 persen (2016).

Adanya kenaikan angka kedalaman kemiskinan menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat miskin level bawah, yang justru semakin menjauh di bawah garis kemiskinan. "Mereka ini memiliki kemampuan daya beli sangat rendah, sehingga kesulitan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar," ungkapnya.

Adapun adanya peningkatan keparahan kemiskinan, menunjukkan kesenjangan di antara masyarakat miskin di Kabupaten Bojonegoro semakin naik. Artinya, distribusi pengeluaran dan kemampuan daya beli masyarakat miskin semakin tidak merata.

"Pada kelompok masyarakat miskin dengan kemampuan daya beli sangat rendah ini, harus ada perhatian lebih, misalnya dengan intervensi program yang dapat meningkatkan pendapatan mereka," jelasnya.

Secara umum Aw menilai, adanya penurunan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro, kinerja pemerintah daerah patut diapresiasi. Karena menurutnya, hal itu menunjukkan upaya pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan telah menuai hasil positif.

"Saya mengapresiasi lah, biar ada motivasi dan semangat, dan pembenahan-pembenahan, sehingga angka kemiskinan di Bojonegoro ini dapat ditekan sampai angka terendah," kata Aw.

Ia berharap, agar Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tidak terbuai dengan kemenangan kecil tersebut, sehingga tetap fakus dan menjadikan percepatan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas pembangunan. Karena dengan begitu angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro dapat ditekan lebih rendah lagi.

"Program kabupaten yang bersentuhan dengan kemiskinan harus lebih ditingkatkan lagi. Begitu juga dana-dana desa harus didorong untuk meningkatkan ekonomi masyarakat miskin yang ada di desa-desa. Utamanya desa yang jadi basis kemiskinan," pungkasnya.

Bupati Bojonegoro Suyoto, mengungkapkan selama ini program pemerintah daerah menunjukan kenaikan dibidang kesejahteraan rakyat. Dari awalnya, kata dia, Bojonegoro yang menjadi daerah termiskin di Jawa Timur, saat ini mulai keluar dari 10 besar penduduk termiskin dari Kabupaten/Kota lain.

"Dari data Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Bojonegoro sekarang diurutan 11 dari Kabupaten/kota lain di Jawa Timur," jelasnya.

Pihaknya mendorong agar dalam sistem keterbukaan informasi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ini bisa dimaksimalkan oleh masyarakat untuk mendukung pemerintah dalam hal pembangunan daerah. [lus/but]

Komentar

?>