Kamis, 22 Juni 2017

Daging Ayam Mahal, Bagaimana Imbas ke Peternak?

Jum'at, 19 Mei 2017 17:21:17 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Daging Ayam Mahal, Bagaimana Imbas ke Peternak?
Peternak ayam asal Jombang sedang memeriksa ayam di kandang

Jombang (beritajatim.com) - Mendekati bulan puasa, sejumlah harga kebutuhan mengalami kenaikan, tak terkecuali daging ayam. Harga komoditas tersebut di pasaran berkisar antara Rp28 hingga Rp30 ribu.

Apakah peternah untung besar? Warsubi, peternak ayam potong asal Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang mengatakan, meski harga daging ayam di pasaran mengalami peningkatan, namun di tingkat peternak tidak demikian.

"Memang di pasaran mulai mahal. Namun di tingkat peternak hanya Rp 17.500 per kilogram. Memang, dengan harga tersebut kita sudah untung, tapi tipis," ujar Warsubi yang juga Kepala Desa Mojokrapak ini, Jumat (19/5/2017).

Warsubi mengungkapkan, harga daging ayam mulai membaik pada Mei 2017. Betapa tidak, mulai Januari hingga April para peternak harus babak belur. Karena selama empat bulan itu harga daging ayam hanya Rp 15.500 hingga Rp 16.500 per kilogram.

Warsubi berpandangan, antara pedagang di pasar dengan peternak tidak bisa disamakan. Untuk pedagang pasar, menurutnya, berapapun harganya baik murah atau mahal tetap ada keuntungan. Akan tetapi bagi peternak dipengaruhi banyak faktor. Semisal harga bivit, biaya pakan, vaksin, hingga biaya perawatan.

Lantas apa yang menyebabkan harga di pasaran mahal? Menurut Warsubi, mahalnya harga daging ayam di pasaran tidak lepas dari panjangnya mata rantai distribusi dari peternak hingga pedagang pengecer.

Detailnya, dari peternak masih ditampung pengepul. Kemudian baru ke pemotong dan terakhir baru pedagang pengecer di pasar. "Namun menurut saya, harga Rp28 ribu hingga Rp30 ribu itu masih ideal," pungkasnya. [suf]

Tag : harga ayam

Komentar

?>