Kamis, 23 Nopember 2017

Ini Rekomendasi Rakernas APTRI tentang Masa Depan Tata Kelola Gula

Minggu, 14 Mei 2017 00:01:45 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Ini Rekomendasi Rakernas APTRI tentang Masa Depan Tata Kelola Gula
Ketua Umum Dewan Pembina APTRI, Arum Sabil.

Pasuruan (beritajatim.com)--Rapat Kerja Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia di Aula Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Kota Pasuruan, Jawa Timur, selama 12-13 Mei 2017 menghasilkan sejumlah rekomendasi.

Ketua Umum Dewan Pembinan Dewan Pengurus Pusat APTRI HM Arum Sabil mengatakan, selama ini petani tebu diidentikkan tidak punya daya saing.

"Seolah-olah APTRI ini adalah kelompok yang selalu anti dan menolak impor. Pada akhirnya kami berpikir bagaimana impor gula itu bukan ancaman. Tapi bagaimana menghadapi gula impor dengan daya saing," katanya.

Arum menegaskan, bahwa petani tebu memiliki daya saing. "Tentunya paling tidak dengan cara produktivitas tebu bisa mencapai 100 ton per hektare dan rendemen 10 persen. Dengan begitu pasti biaya produksi gula bisa di bawah Rp 7 ribu per kilogram," katanya.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan petani saat ini belum bisa mencapai produktivitas ideal tersebut, yang kemudian dijadikan butir-butir rekomendasi rakernas.

"Pertama, karena varietas unggul yang diharapkan petani tidak mudah didapat. Tanggung jawab siapa itu? Ini salah satu rekomendasi rakernas," kata Arum.

Rekomendasi kedua terkait pengadaan pupuk tepat waktu. "Ketika pupuk dibutuhkan tepat waktu atau bagaimana cara menebus pupuk dengan permodalan yang tepat waktu, sulit kami dapatkan," kata Arum.

Rekomendasi ketiga, APTRI menginginkan agar pabrik gula dan tanaman tebu direvitalisasi bersamaan. Ketua Umum APTRI Abdul Wahid menyebut revitalisasi ini sebagai solusi tepat untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Komisi VI DPR RI sudah memberikan anggaran Rp 3 triliun untuk revitalisasi pada 2015. Namun ternyata hingga tahun ini belum selesai.

Rekomendasi berikutnya adalah perbaikan infrastruktur irigasi pengairan yang rusak. "Irigasi ini merupakan urat nadi pertanian," kata Arum.

APTRI merekomendasikan kepada pemerintah agar memperbaiki tata niaga gula impor dan pelaksanaan izin impor.

"Kami mendesak izin impor berdasar kuota kebutuhan di dalam negeri. Pendirian pabrik gula baru yang hanya sebagai kedok impor gula mentah supaya menjadi atensi pemerintah untuk ditinjau ulang, bahkan kalau perlu ditutup," kata Arum.

Wahid juga mendesak agar gula rafinasi tetap untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, dan tidak dijual bebas.

"Industri pabrik gula rafinasi direct langsung ke industri makanan dan minuman. Jadi pemerintah akan tahu berapa kebutuhan gula rafinasi untuk industri. Bukan untuk kapasitas terpasang industri gula rafinasi, yang diinformasikan sampai lima juta ton. Padahal kebutuhan industri gula rafinasi hanya tiga juta ton," katanya.

Rekomendasi mendesak lainnya yang ditujukan kepada pemerintah adalah pencabutan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10/M-IND/PER/3/2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku dalam Rangka Pembangunan Industri Gula. APTRI menilai peraturan tersebut terindikasi hanya sebagai kedok sejumlah oknum agar bisa mendapatkan izin impor gula mentah.

Menurut Arum, kebijakan menteri itu berdampak buruk terhadap petani tebu. "Tentunya kita akan menjerit, meronta, dan melawan," katanya.

Arum menambahkan, kebijakan tersebut membuka peluang kepada pabrik gula baru di Jawa untuk mengimpor gula mentah selama lima tahun dan pabrik gula baru di luar Jawa untuk mengimpor gula mentah selama 7 tahun, untuk menutupi kebutuhan bahan baku tebu. APTRI menilai kebijakan ini bisa membunuh industri gula dalam negeri yang berbasis tebu rakyat.

Rakernas APTRI dibuka Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang, dan dihadiri sejumlah tokoh seperti Wali Kota Pasuruan, para direktur utama PT Perkebunan Nusantara X, XI, dan XII, PT RNI, PT Kebon Agung, dan general manager pabrik gula seluruh Indonesia.

Rakernas ini bertema Optimalisasi Sinergi Menuju Swasembada Gula yang Berdaya Saing Demi Terwujudnya Petani Tebu yang Sejahtera, dan diikuti 600 petani tebu seluruh Indonesia.

"Rakernas ini momentum bagus untuk melakukan komunikasi intensif dan memberikan masukan yang jelas kepada pemerintah. APTRI ingin menjadi mitra yang baik dan menjadi bagian dari perjuangan di negeri tercinta ini," kata Arum.

Sebelumnya, dalam acara pembukaan, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang mengatakan, membangun perkebunan tak hanya pada persoalan teknis.

"Mana kala persatuan kita bisa diwujudkan, betapa kuatnya petani perkebunan Indonesia. Ini menjadi tantangan kita. Saya ingin, lembaga petani betul-betul menjadi teladan bekerjasama dengan semua pihak," katanya.

Bambang memuji APTRI sebagai teladan organisasi petani. "APTRI menjadi anak soleh, anak baik, menjadi teladan lembaga petani lainnya, melaksanakan rakernas untuk memberikan masukan kepada pemerintah untuk perbaikan Indonesia," katanya.

APTRI diharapkan bisa menjadi pionir untuk merekatkan persatuan petani untuk menciptakan swasembada gula nasional. "Insya Allah ini akan jadi kekuatan besar," kata Bambang. [air/wir]

Tag : aptri gula

Komentar

?>