Selasa, 26 September 2017

Dua Proteksi dalam Kebijakan Gula Nasional

Senin, 20 Maret 2017 17:45:23 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Dua Proteksi dalam Kebijakan Gula Nasional

Jember (beritajatim.com) - Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil mengusulkan dua proteksi dalam urusan impor gula. Proteksi ini perlu untuk melindungi pertani dan industri gula dalam negeri.

"Proteksi pertama, mengimpor sesuai kuota kebutuhan dalam negeri. Proteksi kedua, dengan mengenakan tarif. Jangan dipilih salah satu, karena dua-duanya akan bermanfaat untuk rakyat dan negara," kata Arum.

Melalui proteksi tarif, negara mendapatkan devisa. "Proteksi kuota akan melindungi rakyat, khususnya petani dan industri gula dalam negeri. Ini karena pabrik gula dna petani di daerah sebagai motor penggerak perekonomian masyarakat perdesaan. Jangan sampai dimatikan. Kalau sampai dimatikan, ini sangat berbahaya, karena daya beli masyarakat tumbuh dan kuat dengan gerakan ekonomi di perdesaan. Pabrik gula dan tanaman tebu di desa, bukan di kota. Mayoritas masyarakat ada di pelosok desa," kata Arum.

Arum mengingatkan agar daya beli masyarakat jangan sampai jatuh. "Ketika daya beli masyarakat rendah sehingga selalu melihat harga-harga mahal, jangan petani yang ditekan untuk menjual produk pertanian semurah-murahnya," katanya.

"Pemerintah harus adil. Konsumen dan produsen dilindungi. Petani di samping produsen juga konsumen. Jangan sampai abai terhadap produsen. Petani adalah sumber pangan Indonesia," kata Arum.

Arum meminta agar impor gula untuk industri dihitung dan dikawal dengan benar. "Jangan sampai izin impor berdasarkan kapasitas terpasang pabrik. Harus dihitung sesuai kota kebutuhan dalam negeri. Kalau berdasarkan kapasitas terpasang pabrik, berbahaya. Bisa saja pabrik-pabrik gula nasional rafinasi berperan ganda. Bukan hanya untuk kebutuhan makanan dan minuman, tapi juga menggelontor (gula) untuk pasar domestik." katanya. [wir/ted]

Tag : gula

Komentar

?>