Kamis, 23 Maret 2017

Petani Tebu Tolak Impor 1 Juta Ton Gula

Senin, 20 Maret 2017 16:50:57 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Petani Tebu Tolak Impor 1 Juta Ton Gula

Jember (beritajatim.com) - Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil menolak rencana impor satu juta ton gula tahun ini. Ia mecemaskan nasib petani tebu lokal.

Sebelumnya, saat berkunjung ke Arum Sabil City Forest, Kabupaten Jember, Kamis (16/3/2017), Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, jumlah produksi gula tak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. "Jadi tak ada pilihan lain kita impor," katanya.

"Kemampuan total produksi gula kita 2,2 juta ton untuk konsumsi. (Industri) makanan dan minuman butuh 3,5-4 juta ton, untuk konsumsi 3,5 juta ton per tahun," kata Enggartiasto saat itu.

Tahun ini, menurut Enggartiasto, impor akan dilakukan lagi. "Saya masih melihat dengan harapan kalau tahun ini produksi (lokal) bisa 2,5 juta ton, artinya kita impor satu juta ton untuk konsumsi. Kalau makanan minuman, tidak usah nanya, tidak ada pilihan," katanya.

Yang terang untuk industri, pemerintah merencanakan impor 3,5-4 juta ton. Kebutuhan itu akan mengacu pada kebutuhan industri makanan dan minuman sebagaimana dikeluarkan Kementerian Perindustrian sesuai dengan pertumbuhan industri.

Arum mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam urusan impor, sehingga tidak dimanfaatkan kelompok-kelompok yang hanya mengejar keuntungan dan kepentingan politik. "Saya tidak mengecam pemerintah. Saya tidak anti impor. Tapi impor dilakukan harus berdasarkan kuota kebutuhan dalam negeri. Sekarang banyak orang yang mendorong agar impor tidak berdasarkan kuota, biar rakyat dapat harga gula murah. Kedengarannya enak. Tapi dalam jangka panjang ini sangat berbahaya," katanya, Senin (20/3/2017).

Arum menilai, impor gula sarat dengan kepentingan berburu keuntungan dan politik. "Impor ini dengan segala cara biar biasa mulus, agar bisa diterima masyarakat, bisa dimaklumi masyarakat, di-branding sedemikian rupa dengan berbagai argumentasi. Pertama, seolah-olah produksi kita tidak mencukupi. Kedua, kebutuhan dalam negeri tidak bisa dipenuhi produksi dalam negeri," katanya.

Arum melihat harga gula mahal dan stok kurang selalu dijadikan alasan untuk melegitimasi izin impor. Padahal, menurutnya, itu lebih terkait pada pembagian keuntungan di antara sejumlah pihak yang berkepentingan, terutama jika sudah mendekati masa pemilu. "Fee impor tidak sedikit," katanya. [wir/ted]

Tag : gula

Komentar

?>