Jum'at, 28 Juli 2017

Melihat dari Dekat Ring I Pabrik Semen Rembang (4)

Ingat! Jangan Semuanya Tergantung Semen Indonesia

Senin, 13 Maret 2017 11:43:37 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Ingat! Jangan Semuanya Tergantung Semen Indonesia
Realistis: A Ahid (tengah berkopiah) ingatkan banyak pihak bersikap proporsional atas keberadaan pabrik Semen Rembang. [Foto: air/bj.com]

Rembang (beritajatim.com)--Wajahnya terlihat dari kalangan santri. Dengan kopiah hitam, baju biru muda lengan panjang, dan bercelana hitam, A Ahid (46), mantan Kepala Desa (Kades) Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang ini menyimak dan mengikuti jalannya sosialisasi izin penambangan dan pembangunan pabrik Semen Rembang di Balai Desa Pasucen, Gunem, Kamis (9/3/2017) secara seksama.

Pembawaannya tenang, matang, dan tak menyiratkan kekhawatiran sedikit pun jika nanti pabrik Semen Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mulai operasional. A Ahid adalah mantan orang pertama di Desa Timbrangan: Salah satu desa di ring I pabrik Semen Rembang, yang dikabarkan, kuantitas kepala keluarga (KK) yang kontra cukup banyak.

"Jumlah kepala keluarga (KK) di desa kami sekitar 525 KK. Kalau dikatakan yang kontra pembangunan pabrik Semen Rembang memang ada. Tapi jumlahnya ya sekitar 52 KK," kata Ahid. Saat ini, Desa Timbrangan dipimpin Nyono, yang mengandaskan harapan A Ahid duduk kali kedua periode masa jabatan orang pertama di Desa Timbrangan.

Sebagai mantan Kades Timbrangan, Ahid terbiasa menghadapi beragam watak dan karakter warganya menyikapi fenomena baru, termasuk pembangunan dan operasi pabrik Semen Rembang. "Disikapi secara tenang dan dewasa saja. Saya mendukung pabrik Semen Rembang, karena pabrik milik bangsa sendiri kok. Pabrik semen milik asing dibiarkan, masak milik bangsa sendiri diusik," ingat Ahid.

Potret demografi warga Desa Timbrangan lebih besar dibanding warga Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu dan Desa Pasucen, Kecamatan Gunem. Dari sekitar 525 KK, total warga Desa Timbrangan sekitar 1.750 jiwa. Sebagian besar warga desa ini beragama Islam dan termasuk kelompok Islam santri: Umat Islam yang konsisten memegang ajaran Islam sebagaimana di- nash dalam Al Qur'an dan Al Hadits.

Sektor pertanian dan peternakan menjadi mata pencarian utama warga Desa Timbrangan. Pabrik Semen Rembang adalah industri manufaktur yang pertama masuk kawasan desa ini. "Peternakan pun bukan dalam bentuk kelompok. Tapi, peternak sapi rumahan, di mana tiap peternak bisa memiliki 2 sampai 3 ekor sapi," jelasnya.

Dengan tingkat pendidikan rerata SD dan atau sederajat, jumlah KK warga Desa Timbrangan yang hidupnya kurang beruntung (prasejahtera) sekitar 130 KK. Ahid mengatakan, masuknya kegiatan industri di desanya diharapkan memberikan implikasi pada akselerasi kesejahteraan warga desanya.

"Ya itu otomatis, tapi saya juga sadar bahwa pabrik semen ini bukan segala-galanya. Makanya, semua pihak harus berani ngomong jujur dan jangan semuanya bergantung ke pabrik semen," ingat Ahid.

Pandangan realistis itu disampaikan Ahid, karena dia melihat bahwa ekspektasi warga ring I kepada pabrik Semen Rembang sangat tinggi. "Mungkin kelewat tinggi," tukasnya. Semua persoalan sosial dan ekonomi yang muncul dan dihadapi warga ring I dipersepsikan mampu diselesaikan dengan kehadiran pabrik Semen Rembang. Misalnya, masalah peningkatan kesejahteraan rakyat, perbaikan kualitas, sarana, dan prasarana pendidikan, peningkatan kesehatan warga, perbaikan sarana pertanian, dan lainnya. "Imagenya Semen Rembang itu di atas Pemkab Rembang kok," ujarnya sambil tersenyuim simpul.

Potret psikologis bersifat faktual ini, menurut Ahid, mesti disikapi secara hati-hati, jujur, dan arif. Sehingga kemungkinan munculnya ketidakpuasan dan perbedaan pandangan saat pabrik Semen Rembang mulai operasional bisa dihindarkan. "Kuncinya cuma dua: berkata jujur dan mempersiapkan program aksi pemberdayaan masyarakat sebaik mungkin," ungkapnya.

Di sisi lain, merujuk izin Amdal penambangan dan pembangunan pabrik Semen Rembang yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemprov Jateng, tertanggal 23 Februari 2017, disebutkan bahwa jenis aktifitas yang dilakukan pabrik Semen Rembang di Desa Timbrangan adalah penambangan tanah liat berikut sarana dan prasarana pendukungnya.

Selain itu, di desa ini juga akan ada jalan tambang seperti juga ada di Desa Tegaldowo, dan Desa Kajar, Kecamatan Gunem. Areal penambangan tanah liat di lahan sekitar 130 hektar. Lahan tambang tanah liat seluas itu cukup memenuhi kebutuhan tanah liat untuk proses produksi semen selama 30 tahun, dengan kapasitas pabrik mencapai 3 juta ton per tahun.

Ahid mengakui, kendati cukup banyak warga Desa Timbrangan yang kontra pembangunan pabrik Semen Rembang dibanding warga 4 desa ring I lainnya: Kadiwono, Pasucen, Kajar, dan Tegaldowo, namun program CSR PT Semen Indonesia di Desa Timbrangan tetap dijalankan secara konsisten, baik secara kualitas dan kuantitas.

"Bantuan CSR untuk Desa Timbrangan dari Semen Indonesia sudah banyak, Mas. Misalnya, beasiswa, pembangunan masjid, bakti kesehatan, pembagian beras, pelatihan pertanian, pelatihan tata boga, pelatihan budidaya pertanian, dan lainnya. Sebab, yang pro maupun kontra dipandang sebagai saudara sendiri kok," kata Ahid.

Pandangan senada disampaikan Camat Gunem, Teguh Gunawarman. Dia mengatakan, ketika pabrik Semen Rembang telah mengantongi izin Amdal yang baru dikeluarkan Pemprov Jateng dan direncanakan segera beroperasi, maka sikap pro dan kontra mesti dihilangkan. "Saat pabrik semen ini sudah jalan, ya kita dukung. Tak ada lagi prokontra di sini," ingat Teguh Gunawarman. [air/habis]

Komentar

?>