Minggu, 24 September 2017

Melihat dari Dekat Ring I Pabrik Semen Rembang (3)

Ada Harapan Warga Bisa Bekerja di Pabrik Semen

Senin, 13 Maret 2017 09:56:56 WIB
Reporter : Ainur Rohim
  • Ada Harapan Warga Bisa Bekerja di Pabrik Semen
  • Ada Harapan Warga Bisa Bekerja di Pabrik Semen
Sosialisasi: Kegiatan sosialisasi izin penambangan dan pembangunan pabrik Semen Rembang di Desa Pasucen, Gunem. [Foto: air/bj.com]

Rembang (beritajatim.com)--Tanaman padi mulai berbuah dan menguning di bentangan persawahan dekat Balai Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jateng. Jalan poros di desa itu sebagian telah dibeton, meski lebarnya tak lebih dari 3 meter. Sehingga jika ada 2 unit mobil berpapasan, salah satu mesti mengalah dan berjalan menepi turun dari badan jalan yang terbangun dari beton.

Secara administratif dan geografis, di Desa Pasucen inilah tapak pabrik Semen Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk berada, di samping di Desa Kajar, Kecamatan Gunem. Luas tapak pabrik berikut sarana dan prasarana pendukungnya diperkirakan 58 hektar. PT SI di Kabupaten Rembang diberikan otoritas dan tanggung jawab untuk mengeksploitasi tanah kapur sekitar 293 hektar dan tanah liat dengan 130 hektar.

"Itu cukup untuk proses produksi pabrik semen dengan kapasitas 3 juta ton per tahun selama 30 tahun," kata Heru Indrawidjajanto, Head of Engineering and Construction Division pabrik Semen Rembang saat dihubungi beritajatim.com, Rabu (8/3/2017) lalu.

Kehadiran pabrik Semen Rembang merupakan ekspektasi baru bagi warga ring I, khususnya warga Desa Pasucen, sekaligus peluang melakukan perubahan sosial ekonomi mereka ke arah lebih baik. Karena itu, ada harapan tinggi, warga ring I bisa berkontribusi dan berperan aktif dalam proses operasi pabrik Semen Rembang tersebut.

"Istilahnya jangan sekadar jadi penonton," kata Sakri, Kaur Keuangan sekaligus tokoh masyarakat Desa Pasucen kepada beritajatim.com, Kamis (9/3/2017) di Desa Pasucen. Sebagai desa ring I, katanya, hampir 100 persen warga Desa Pasucen mendukung keberadaan dan operasi pabrik Semen Rembang. Hal itu bisa dibuktikan dengan tingkat antusiasme tinggi warga setempat saat digelar kegiatan sosialisasi izin penambangan dan pembangunan pabrik Semen Rembang milik PT SI. "Warga sangat senang," tukasnya.

Dia mengutarakan, kehadiran pabrik Semen Rembang membuka akses pekerjaan lain di luar sektor pertanian dan peternakan. Penduduk Desa Pasucen yang jumlahnya sekitar 950 jiwa (terbagi dalam 315 kepala keluarga/KK) sebagian besar berprofesi sebagai petani. Di sebagian areal pertanian milik warga setempat, pola tanamnya adalah padi, padi, dan palawija tiap tahun. "Pengairan pertanian di sini cukup bagus, mengingat ada sumber air cukup besar," tambahnya.

Tingkat pendidikan warga Desa Pasucen adalah SLTP/SLTA dan ada pula sebagian kecil di antaranya menempuh pendidikan sampai sarjana (S1).

Respon positif dan terbuka yang diberikan warga Pasucen atas kehadiran pabrik Semen Rembang telah direspon memadai manajemen PT SI. Sejumlah program CSR telah direalisasikan di Desa Pasucen. "Cukup banyak program CSR dijalankan di sini," aku Sakri.

Bentuk-bentuk program CSR yang telah diimplementasikan antara lain, bantuan pengobatan, bantuan pendidikan (Kejar Paket C), rehabilitasi dan pembangunan masjid, pembenahan infrastruktur pertanian terutama irigasi, bantuan kegiatan kultur pedesaan seperti sedekah bumi, peringatan HUT RI (Agustusan), dan lainnya. "Ada harapan warga setelah pabrik beroperasi, mereka bisa kerja di sana," ujarnya.

Kepala Departemen CSR PT SI, Wahyudi Heru, mengatakan, setelah tapak pabrik Semen Rembang diresmikan dan pembangunan fisik proyek pabrik Semen Rembang dimulai pada 2014 lalu, program CSR dari korporasi ini kepada warga ring I dan masyarakat Rembang secara keseluruhan langsung digenjot. Pada 2014 lalu, korporasi mengucurkan anggaran CSR khusus Rembang sebesar Rp 7 miliar, pada 2015 dengan Rp 10,35 miliar, dan pada 2016 dengan Rp 25 miliar.

Diperkirakan, pada 2017 ini besaran nilai alokasi CSR PT SI di Rembang meningkat dibanding 3 tahun sebelumnya. Sebab, di tahun ini, pabrik dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun dan menelan investasi sekitar Rp 4,9 triliun ini direncanakan mulai operasional. "Operasi pabrik semen itu bukan hal menakutkan. Contohnya sudah banyak seperti di Gresik, Tuban, Padang, dan Tonasa," kata Wahyudi Heru.

Langkah pendekatan dan politik merangkul terus dijalankan manajemen PT SI sebelum operasional pabrik Semen Rembang dimulai. Setelah izin Amdal yang baru diteken otoritas terkait di Pemprov Jateng, pada 8 sampai 10 Maret 2017 lalu, manajemen PT SI menggelar sosialisasi di 3 titik kawasan ring I pabrik Semen Rembang.

Di mana saja? Sosialisasi pertama dihelat di Balai Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu. Sosialisasi kedua di Balai Desa Pasucen, Kecamatan Gunem dengan peserta perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga Desa Pasucen, Timbrangan, dan Kajar. Sosialisasi ketiga di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem. Sosialisasi ini langkah praktis bersifat mutlak yang mesti dijalankan manajemen SI setelah izin Amdal yang baru turun. "Sesuai dengan permintaan Pak Gubernur Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng)," tegas Wahyudi Heru yang dibenarkan Heru Indrawidjajanto.

Realitas faktual pengamatan beritajatim.com di lapangan memperlihatkan, prinsip transparansi atas kebijakan pembangunan dan izin Amdal penambangan dan pembangunan pabrik Semen Rembang ini dijalankan secara konsisten dan fair. Surat izin Amdal yang baru pabrik Semen Rembang yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng per tanggal 23 Februari 2017 dan ditekan Ir Sugeng Riyanto M.Sc diumumkan secara terbuka kepada publik.

Di pintu masuk Desa Pasucen, misalnya, ada surat izin Amdal yang baru pabrik Semen Rembang yang dicetak di vinyl dan ditempatkan di tepi jalan utama desa pada papan sebagai pengumuman. Sehingga orang yang keluar-masuk Desa Pasucen bisa mengetahui dan membaca isi pengumuman tersebut secara terbuka dan jelas. "Prinsipnya, warga menyambut antusias dan apresiasi akan beroperasinya pabrik Semen Rembang ini," tegas Sakri. [air/bersambung]

Komentar

?>