Minggu, 23 April 2017

Harga Cabai Meroket, DPRD Jatim Sidak Pasar Induk Pare

Selasa, 10 Januari 2017 17:15:19 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Harga Cabai Meroket, DPRD Jatim Sidak Pasar Induk Pare

Kediri (beritajatim.com) – Komisi B DPRD Jawa Timur bersama Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) dan Biro Administrasi Sumber Daya Alam (SDA) menggelar inspeksi mendadak ke Pasar Induk Komoditi Sayur Buah dan Pangan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sidak dilakukan untuk memantau langsung harga komiditi cabai, khususnya cabai rawit yang mengalami lonjakan harga.

Dalam sidak, tim gabungan melakukan pencatatan terhadap harga cabai dan juga jenis-jenis cabai yang diperjual-belikan. Tim juga berdialog dengan pedagang dan asosiasi petani cabai yang menjual hasil pertaniannya di Pasar Induk Pare. Pasar ini sendiri merupakan pasar tradisional terbesar di Kabupaten Kediri.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Subiantoro mengungkapkan, kenaikan harga cabai yang sudah berlangsung sejak sebelum tahun baru dan bertahan hingga sekarang ini karena pengaruh suplay barang ke pasar. Produktifitas pertanian cabai di Jawa Timur menurun hingga pasokan cabai ke pasar ikut berkurang.

"Kemarau basar yang terjadi di sepanjang tahun 2016 kemarin menyebabkan produktifitas tanaman cabai menurun. Menurut asosiasi petani cabai, penurunan produktifitas cabai mencapai 70 persen. Dalam kondisi normal, bisa memproduksi 10 ton per satu hektar lahan cabai, kini hanya mampu menghasilkan 2 ton per hektar saja. Banyak tanaman cabai yang berpenyakitan dan juga mati," ungkap Subianto, Selasa (10/1/2017).

Masih kata politisi Partai Demokrat ini, faktor penyebab lainnya karena petani masih mengandalkan sistem pertanian tradisional. Mereka menanam cabai dari bibit tanaman lokal, bukan produk yang keluar dari hasil uji laboratorium. Sehingga, hasil cabai yang dihasilan juga kurang maksimal.

"Benih cabai yang mereka tanaman dari hasil tanaman cabai sendiri. Padahal, benih tersebut sudah banyak virusnya. Ini berpengaruh terhadap produktifitas cabai. Kami mendorong pemerintah untuk mengusahakan benih cabai hibrida. Sehingga, ke depan ada pergeseran dari petani tradisional ke modern," beber Subianto.

Selain mendorong penyediaan benih cabai hibrida, kalangan dewan juga menyerukan pemberdayaan kelompok tani. Pemerintah melalui Dinas Pertanian telah mensupport petani melalui pendidikan lapak bagi mereka. Fasilitas pelatihan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan bagi petani sebaik mungkin.

Terpisah, Sumardi, selaku pedagang cabai mengaku, harga cabai mulai mengalami kenaikan secara bertahap sejak akhir tahun 2016 lalu. Saat ini harga cabai rawit dilepas sebesar Rp 80 ribu per kilogram. Harga ini sempat mencapai puncaknya sekitar Rp 90 ribu er kilogram. "Kenaikan harga cabai ini bertahap. Naiknya sekitar Rp 5 ribu per kilogram, tetapi terus menerus," aku Sumardi.

Menurutnya, ada beberapa jenis cabai yang diperjual-belikan di pasar ini. Umumnya, petani menanam cabai dari benih lokal. Cabai ini memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan dari benih impor. Baik bertahan terhadap cuaca saat ditanam, juga saat buah yang sudah dipetik tidak cepat busuk.

Untuk diketahui, Pasar Induk Pare ini merupakan pasar tradisional terbesar di Kediri setelah Pasar Grosir di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri. Di Pasar ini menjual komoditi sayuran, buah dan pangan. Beberapa sayuran yang dijual antara lain, cabai, sawi, kol, terong, tomat, wortel dan juga timun. Pasar ini mulai buka sejak pukul 06.00 WIB dan tutup pada pukul 24.00 WIB. (nng/kun)

Tag : cabai dprd kediri

Komentar

?>