Selasa, 23 Mei 2017

Bandara Trunojoyo Terganjal Pembebasan Lahan

Selasa, 04 Oktober 2016 12:54:28 WIB
Reporter : Temmy P.
Bandara Trunojoyo Terganjal Pembebasan Lahan

Sumenep (beritajatim.com) - Pembebasan lahan untuk pemagaran sekeliling 'runway' (landasan pacu) Bandara Trunojoyo Sumenep, mandeg. Pasalnya, para pemilik lahan enggan melepaskan lahannya ke Pemkab setempat.

"Para pemilik lahan ini maunya semua lahannya dibeli. Tidak hanya sebagian yang terkena pengembangan bandara saja," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep, Hadi Soetarto, Selasa (04/10/16).

Ia menjelaskan, nyaris tidak mungkin Pemkab membeli keseluruhan lahan milik warga yang berada di luar 'master plan' (rencana induk) pengembangan Bandara Trunojoyo.

"Selama tanah milik warga tidak masuk ke 'master plan', ya tidak bisa kita beli. Kalau dibeli semua, tentu akan membutuhkan dana besar. Selain itu juga mau dipakai apa, karena sudah di luar 'master plan'," ujarnya.

Saat ini 'runway' Bandara Trunojoyo telah diperpanjang menjadi 1.600 meter, dengan lebar 30 meter. Semula panjangnya 1.120 meter dengan lebar 23 meter. Selain perpanjangan 'runway', pengerjaan pengembangan Bandara Trunojoyo berupa pembuatan 'apron' atau pelataran pesawat seluas 80 meter x 75 meter, juga telah tuntas dikerjakan.

Namun meskipun secara ukuran 'runway' Bandara Trunojoyo telah memenuhi syarat untuk pesawat komersial jenis ATR 72, namun pengoperasian 'runway' baru, terkendala dari sisi kemanan, yakni belum adanya pagar di sekeliling bandara.
Sementara posisi pagar sekeliling bandara berada di lahan yang belum dibebaskan. Termasuk di sekitar ujung pendaratan 'runway' 12. Total lahan yang diperlukan seluas 5,18 hektar.

"Kami masih mencoba melakukan pendekatan kepada para pemilik lahan, untuk mencari jalan tengah terhadap persoalan itu," terang Atok, sapaan akrab Hadi Soetarto.

Menurutnya, untuk anggaran pembebasan lahan sebenarnya telah disiapkan Pemkab. Bahkan pengukuran dan penaksiran harga juga telah dilakukan. Namun realisasi pembebasan lahan terkendala keinginan pemilik untuk pembebasan lahan secara keseluruhan.

"Kami memang menyadari, kalau lahan sudah masuk kawasan bandara, memang tidak bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Tetapi di sisi lain, kami kesulitan juga kalau harus membeli lahan di luar 'master plan'. Mangkanya kami masih intens melakukan pendekatan pada pemilik lahan," ucapnya. [tem/but]

Komentar

?>