Jum'at, 22 Juni 2018

Wawancara Wakil Ketua TPID Soal Ekonomi Jember Era Bupati Faida (4-Habis)

Jember Tak Bisa Bergantung pada Jember Fashion Carnaval

Minggu, 11 September 2016 11:28:26 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jember Tak Bisa Bergantung pada Jember Fashion Carnaval
Jember Carnival: Event tahunan yang digelar Pemkab Jember untuk mengakselerasi perekonomian setempat. [Foto: oriza/bj.com]

Jember (beritajatim.com)-- Selama ini, ekonomi kreatif dan pariwisata selalu diikhtiarkan menjadi salah satu unggulan di Kabupaten Jember.

Kini orang mengenal Jember dengan 'trade mark' Kota Karnaval, karena penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval. Ini karnaval fesyen jalanan yang menjadikan jalan protokol di Kabupaten Jember sejauh 3,6 kilometer sebagai catwalk.

Namun cukupkah 'trade mark' itu? Apa yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk mengungkit perekonomian, terutama di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata, di tengah krisis fiskal saat ini?

Sebagaimana diberitakan, belum setahun Bupati Faida memimpin Kabupaten Jember, sejumlah persoalan terkait fiskal muncul. Dua pukulan telak berupa pemangkasan dana alokasi umum (DAU) Rp 247 miliar dan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 32,9 miliar oleh pemerintah pusat.

Sementara itu, hingga Agustus 2016, APBD yang merupakan pengungkit perekonomian justru baru terserap sekitar 40 persen.

Kondisi ini diperparah dengan kondisi perekonomian nasional yang sedang suram. Pemerintah pusat mengencangkan ikat pinggang. Sementara selama lima tahun masa pemerintahannya, Bupati Faida sudah berkomitmen melaksanakan 22 Janji Kerja.

Berikut serial wawancara dengan Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah sekaligus Pemimpin Kantor Bank Indonesia Kabupaten Jember Achmad Bunyamin. Ini seri yang keempat.

Promosi terkait branding. Dari lima wilayah di Eks Karesidenan Besuki, mana saja yang sudah punya kekuatan branding? Bondowoso dan Banyuwangi. Bondowoso memiliki branding kopi Arabika. Banyuwangi punya branding pariwisata. Dunia luar lebih tahu Banyuwangi dibandingkan Jember.

Bagaimana strategi branding untuk wilayah di luar Bondowoso dan Banyuwangi?

Seperti kata Bupati Anas kemarin, jangan rebutan. Jangan bikin yang sama. Keunggulan daerah berbeda-beda. Kalau mau bikin kloning Jember Fashion Carnaval ya kalah.

Kalau Jember, apa brandingnya di luar Jember Fashion Carnaval?

Apa ya? Nanti kita lihatlah, harus diciptakan.

Bagaimana penciptaannya?

Saya tidak bisa ngomong. Harus ada keterlibatan dengan dia di Jalan Sudarman (alamat Kantor Pemerintah Kabupaten Jember). Ada pertanian, perindustrian, perdagangan, pariwisata, apa yang benar-benar menonjol dan dijadikan branding Jember. Kalau perlu pemerintah daerah sewa konsultan untuk tahu branding Jember. Branding itu tak harus makanan. Bisa apa saja. Di Solo dan Pekalongan ada batik.

Bisakah Jember bergantung hanya pada Jember Fashion Carnaval dengan sebutan 'Carnaval City'?

Tidak bisa. JFC punya siapa? Bukan punya pemerintah daerah. Kalau misalnya Dynand Fariz (penggagas dan presiden JFC) kecewa terus pindah? Kan bisa. Jadi intinya, 'branding' harus berakar dari masyarakat. Katakanlah, Tanggul Jember Tradisional (Tajemtra) diiringi festival menarik yang tumbuh dari masyarakat, bisa saja.

Berarti menggantungkan 'branding' pada JFC rapuh?

Rapuh. Ini sudah terlihat. Walau Dynand itu pencetus, dia tetap butuh kerjasama, terutama pendanaan dari pemerintah daerah. Kalau ada 'share' gampang. Siapa punya 'share' besar, itulah owner-nya (pemiliknya). Sekarang butuh berapa, tapi (JFC) ini jadi milik pemda. Kalau Dynand pindah, JFC tetap milik Jember. Kalau sekarang, dia bisa pindah.

Okelah Dynand Fariz adalah presiden JFC. Tapi ownership milik pemda, karena sharing besar. Ownership ini peluang. Bukan kemudian malah menghindar dengan alasan tidak ada duit.

Karena JFC sudah besar ya, Pak?

Iya, sayang sekali kalau hilang dari Jember. Seharusnya dikembangkan apa rentetan setelah JFC. Kalau wisatawan ke sini, pas tidak ada JFC, dia bisa foto-foto dengan produk JFC, dan itu pemerintah daerah yang ambil inisiatif: bikin apparel, bikin ruang khusus. Kalau saya kaya raya, saya beli itu JFC. Segala macam atas izin saya, termasuk lapak-lapak berbau JFC yang mau berjualan. Kalau komersial kan begitu? Cuma karena sekarang pesta rakyat, semua orang boleh jualan apa saja (berbau JFC). [air/wir]

Tag : tpid jember

Komentar

?>