Ekbis

Tahun 2018, PT BSI Berikan Royalti USD 8,8 Juta untuk Negara

Surabaya (beritajatim.com) – Pada tahun 2018, PT Bumi Suksesindo (BSI) Persero memberikan royalti kepada negara sebesar USD 8,8 juta. Nilai itu tersebut meningkat lebih dari 60% dibanding pada 2017 yang nilai royaltinya mencapai USD 5 juta.

Hal itu dikatakan Katamsi Ginano, General Manager External Affairs PT Merdeka Copper Gold Tbk, saat FGD di Graha PWI Jatim di Jalan Taman Apsari Surabaya, Senin (25/3/2019) siang. Pembicara lainnya dalam kegiatan itu adalah Supoyo, Sekretaris Dinas ESDM Jatim.

“Pemasukan ke kas negara itu belum termasuk pajak dan program pemberdayaan masyarakat yang kita lakukan di daerah operasi,” katanya.

Dia mengutarakan, nilai program pemberdayaan masyarakat yang dikucurkan manajemen PT BSI di daerah operasinya di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi untuk tahun 2017 sebesar Rp 8 miliar, tahun 2018 sebesar Rp 34 miliar, dan tahun 2019 diperkirakan bisa mencapai Rp 60 miliar.

Katamsi mengatakan, PT Merdeka Copper Gold sebagai holding company dari PT BSI ingin menjalin relasi sosial dan kultural yang baik dengan lingkungan sekitar wilayah operasinya. PT BSI juga memberikan golden share kepada Pemkab Banyuwangi, di mana share tersebut sekarang nilai valuasinya diperkirakan mencapai Rp 700 miliar.

“Kita menerapkan prinsip green minning dalam kegiatan tambang emas, perak, dan tembaga kami di Banyuwangi,” ujarnya.

Pada 2018, tingkat produksi emas PT BSI sekitar 5 ton emas. “Produksi emas Indonesia sekarang nomor 12 di dunia. Yang terbesar China, Australia, Amerika Serikat, dan negara lainnya. Indonesia berada di ranking 12 di bawah Ghana yang nangkring di posisi 11,” jelasnya.

Sejauh hasil studi kelayakan dan eksplorasi yang dilakukan, diperkirakan kandungan emas, perak, dam tembaga di Tumpang Pitu, Banyuwangi tak jauh berbeda dengan tambang PT Freeport di Mimiki, Provinsi Papua.

PT BSI beroperasi di kawasan 5 desa di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Kelima desa itu adalah Desa Sumberagung, Desa Pesanggaran, Desa Sumbermulyo, Desa Kandangan, dan Desa Sarongan.

Perusahaan ini memperkirakan hampir 3.000 pekerja, di mana lebih dari 95% tenaga kerja yang direkrut merupakan WNI dan sebagian besar di antaranya warga lokal.

Sementara itu, Sekretaris Dinas ESDM Jatim, Supoyo, mengatakan, berdasar data penelitian geologi yang dilakukan peneliti dari Belanda, RW Van Bemmelen, yang dipublikasikan pada 1949, kawasan Jatim bagian utara termasuk Madura kaya dengan potensi migas, kawasan Jatim tengah potensi panas bumi, dan kawasan Jatim selatan kaya dengan potensi sumber daya mineral.

Supoyo mengatakan, Dinas ESDM Jatim telah mengajukan kepada Kementerian ESDM dan instansi Pemerintah Pusat lainnya di Jakarta pentingnya 4 kawasan eksploitasi potensi pertambangan di Jatim, yakni Malang-Lumajang, Tulungagung, Blitar, dan Pacitan.

Sedangkan izin usaha pertambangan yang telah diterbitkan Pemprov Jatim sebanyak 465 izin, dengan nilai investasi Rp 2,443 triliun dan jaminan uang reklamasi mencapai Rp 160 miliar.

“Nilai pajak pengusahaan mineral yang masuk ke kas negara mencapai Rp 12 triliun, di mana pada 2018 diterbitkan Rekomtek IUP sebanyak 172 izin dan tahun 2019 (hingga Maret) sebanyak 42 izin,” papar Supoyo. [air/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar