Ekbis

Sekelompok Warga Kediri Manfaatkan Kotoran Sapi Untuk Bahan Bakar Alternatif

Kediri (beritajatim.com) – Desa-desa di Kabupaten Kediri terus berinovasi untuk mengangkat potensi yang dimiliki. Seperti halnya Desa Ngampel, Kecamatan Papar. Sekelompok peternak sapi memanfaatkan biogas dari kotoran ternak untuk menciptakan gas metan, sebagai sumber penerangan dan memasak.

Inovasi pemanfaatan biogas menjadi bahan bakar alternatif ini dilakukan oleh Kelompok Peternak Sapi Sari Pati Ngampel. Dari dua sumber biogas yang dikelola oleh peternak, kini mampu mencukupi kebutuhan bahan bakar kompor dan lampu petromak enam kepala keluarga dari anggota.

Jamal Sururi, Ketua Pokternak Sari Pati Ngampel mengaku, ide awal pembuatan biogas tersebut dari banyaknya kotoran hewan ternak sapi yang dihasikan. Kemudian, mereka meminta pelatihan pemanfaatan kotoran ternak itu kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri.

“Awalnya banyak kotoran dari anggota kelompok. Kemudian diolah menjadi biogas. Lalu, gasnya bisa dimanfaatkan oleh anggota kelompok atau warga,” kata Jamal Sururi, Selasa (10/9/2019).

Kelompok ternak sati pati ini kemudian diberi bantuan biogas yang memiliki fungsi merubah kotoran ternak sapi menjadi gas metan. Energi alternatif ini kemudian dialirkan ke rumah-rumah anggota kelompok untuk dijadikan sebagai bahan bakar kompor untuk memasak serta sumber penerangan dari lampu petromak.

Selain menghasilkan bahan bakar alternative, sisa kotoran setelah melalui proses biogasi dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Selain gas, juga menjadi pupuk. Lalu, kerena kotoran sudah melalui pelepasan gas metan, maka pupuk yang dihasilkan sangat bagus serta bisa langsung diterapkan di tanah,” imbuh Jamal.

Masyarakat mengaku, energi alternatif tersebut sangat bermanfaat. Kini mereka sudah tidak pernah membeli gas elpiji dan menekan tagihan listrik pln hingga 30 persen.

“Sangat bermanfaat sekali. Sejak ada gas metan dari biogas, saya sudah tidak lagi beli elpiji untuk memasak. Selain itu, bisa menghemat tagihan listrik,” kata Erniati, warga pengguna gas metan dari biogas.

Inovasi yang dilakukan oleh kelompok peternak sapi sari pati ngampel ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa setempat. Pihak desa bersedia memfasilitasi penganggaran untuk mengembangkan program tersebut yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa.

“Kita membantu apa yang diperlukan, tetapi tidak dapat menganggarkan dalam kondisi banyak. Selain itu, juga harus berkomunikasi dengan lembaga untuk mengalokasikan dana itu,” kata Yakholaiv, Kepala Desa Ngampel.

Kelompok peternak sapi sati pati ngampel ini memiliki 30 orang anggota. Mereka membudidayakan sapi lokal yang berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. [nng/kun].

Apa Reaksi Anda?

Komentar