Ekbis

PT IMLI, 30 Tahun Berkutat dengan Aki Bekas

Mesin peleburan timah hitam PT IMLI di pabriknya di Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. (Foto: air)

Surabaya (beritajatim.com) – Aki bekas, barang rongsokan yang menjadi beban lingkungan hidup jika tak dikelola dengan baik. Aki bekas termasuk limba jenis B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Di tangan manajemen kreatif, aki bekas mampu disulap menjadi barang berharga dan tak mewariskan beban lingkungan hidup sama sekali. PT Indra Eramulti Logam Industri (IMLI) adalah perusahaan yang sejak 30 tahun lalu mengelola dan memanfaatkan aki bekas untuk bahan produktif pembuatan aki baru: Timah hitam.

Berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektar sejak tahun 1988 dan mulai operasional 1989, PT IMLI, salah satu anak perusahaan Indoprima Group, bergerak di bidang manufacturing aki bekas menjadi timah hitam. Produk akhir PT IMLI menjadi komponen utama dan penting bagi pabrikan aki.

“Kami sangat membutuhkan pasokan aki bekas untuk diolah dan diproses menjadi timah hitam,” kata Direktur PT IMLI, Dian Triharjo Gustadi. Pabrik pengolah aki bekas ini berlokasi di Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Adalah Menteri Perindustrian Ir Hartarto yang meresmikan operasional pabrik tersebut. “Tak lebih dari 3 pabrik serupa yang ada di Indonesia. Di Jatim, hanya pabrik kami yang bergerak di bidang ini,” tambah Dian Triharjo.

Memiliki 5 unit mesin peleburan timah hitam, secara obyektif total aki bekas yang dibutuhkan IMLI per bulan mencapai 6.000 ton. Sebab, kelima mesin peleburan timah hitam tersebut memiliki tingkat utilitas maksimal per bulan 3.000 ton timah hitam. “Tak gampang mendapatkan bahan baku aki bekas,” ujar Surya Widada, staf manajemen PT IMLI.

Berapa banyak buah aki bekas yang dibutuhkan PT IMLI per bulan untuk menghasilkan produksi timah hitam 3.000 ton? Surya menjelaskan, setiap aki bekas rata-rata beratnya antara 12 sampai 15 kilogram per buah. “Ya tinggal dikalikan saja,” tukasnya.

Dalam tempo cukup lama, PT IMLI belum bisa mendapatkan pasokan aki bekas sesuai dengan kapasitas mesin peleburan timah di pabriknya. Sehingga tingkat utilitas mesin pabriknya belum bisa maksimal. Saat ini rata-rata produksi timah hitam PT IMLI per bulan mencapai 1.000 ton, yang secara keseluruhan terserap pasar domestik sebesar 80 persen dan 20 persen sisanya diekspor. “Semua pabrikan aki besar memakai produk timah hitam PT IMLI,” tambah Surya.

Lonjakan kenaikan penjualan sepeda motor dan mobil di Indonesia dari tahun ke tahun, tak otomatis mengakibatkan pasokan aki bekas kepada PT IMLI dan pabrik pengolah aki bekas lainnya di Indonesia lancar dan sesuai ekspektasi. Dian Triharjo mengatakan, siklus bisnis manufacturing aki bekas menjadi timah hitam setidaknya melibatkan 4 komponen. Siapa saja?

Pertama, pemanfaat atau pengolah, dalam konteks ini PT IMLI. Korporasi ini yang berkewajiban memanfaatkan dan mengelola aki bekas sebagai limbah B3 sesuai dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah.

Kedua, produsen aki. Ketiga, agen ritel aki. Dan keempat, penghasil yang berkewajiban menyerahkan kembali aki bekas kepada ritel produsen tempat pembelian dan bertanggung jawab atas aki bekas yang dipakainya. “Ya tentu ada pemerintah sebagai regulator,” tegas Dian Triharjo.

Karakter usaha dan bisnis PT IMLI adalah perusahaan yang ramah lingkungan, karena core bisnisnya adalah memanfaatkan limbah B3 menjadi bahan baku produktif untuk jenis barang serupa yang sebelumnya limbah B3. Korporasi ini telah 4 kali memperoleh proper biru dan manajemen menargetkan merebut proper hijau.

Selain timah aki bekas yang diolah menjadi timah hitam, komponen aki lainnya seperti plastik tetap diolah PT IMLI dan tak dibuang sembarangan. Saat plant visit ke pabrik PT IMLI di Gunung Gangsir, Pasuruan terlihat tumpukan karung plastik putih isinya adalah potongan plastik aki bekas. “Prinsipnya kita ingin mengubah barang bekas menjadi berharga,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim, Dr Diah Susilowati, mengatakan, PT IMLI adalah salah satu pabrikan yang mengolah limbah B3 menjadi barang produktif. Keberadaan pabrik ini sejak 1988 sampai sekarang berperan aktif mengurangi buangan limbah B3 di Jatim.

Diah mengutarakan, di Jatim sekarang ini ada sekitar 813 ribu perusahaan industri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.136 perusahaan industri berskala besar, 19 ribu lebih berskala menengah, dan sisanya level kecil dan mikro. Baru sekitar 50 persen limbah yang dihasilkan berbagai level industri terkelola dengan baik dan sisanya belum terkelola.

“Limbah medis, rumah sakit, dan industri logam membutuhkan penanganan khusus. Kita memiliki pusat pengelolaan limbah B3 di Kabupaten Mojokerto,” ungkapnya. Penanganan khusus limbah B3 itu menyangkut aspek pengumpulan, transportasi, pengelolaan, pemanfaatan, dan penumbunan.

“Saya sampaikan terima kasih, karena IMLI mampu mengelola dan memanfaatkan limbah B3 berupa aki bekas menjadi barang produktif berupa timah hitam. Ini proses usaha dan bisnis yang produktif dan konstruktif bagi kepentingan kelestarian lingkungan,” tegas Diah. [air/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar