Ekbis

PT HRL Internasional Fokus Penelitian Herbal dan Hewan Langka

Presdir PT HRL Internasional Heru Prasanta Wijaya

Sidoarjo (beritajatim.com) – Sebelum industrialisasi berkembang tahun 1960-an, kondisi alam Indonesia masih alami atau natural. Kerusakan alam belum terjadi seperti sekarang.

Sumber-sumber mata air kini sarat akan polutan, kebiasaan memasak makanan juga berubah, dari sekali masak habis untuk saat yang, pagi, siang dan malam, kini makanan cenderung bisa awet dan bertahan lama karena diberikan zat pengawet. Memasak waktu pagi bisa dinikmati sampai malam hari.

Akibatnya kenyamanan hidup mulai terganggu. Udara yang kita hirup sudah terkontaminasi karbon monoksida/dioksida.

Udara bebas menjadi kotor oleh partikel halus seperti asbes, debu. dan lain sebagainya.

Sumber mata air juga demikian, tercemar pestisida maupun deterjen. Sedangkan air dari Perusahaan Air Minum tak Iepas dari kandungan kaporit atau bahan-bahan penjernih Iainnya.

Berbagai minuman masa kini dikemas dengan warna-warna menarik, beraroma dan rasa yang enak karena menggunakan bahan sintetis.

Pesona dan gencarnya iklan menjadikan makanan dan minuman toksik (toxic) tersebut mendominasi nutrisi anak-anak, sehingga bocah berusia 10 tahun pun terindikasi diabetes.

Menyikapi kondisi dan kenyataan yang ada, PT HRL Internasional fokus melakukan riset dan berbagai penelitian budi daya tanaman herbal organik, menuju “Herbal terstandar Indonesia”.

Presdir PT HRL Internasional Heru Prasanta Wijaya mengatakan tujuan mengembangkan pola pengobatan berbasis kekayaan alam, satwa, dan mineral ‘lndonesia untuk mempertahankan usia dan mencegah manusia mati muda.

“Dalam upaya melakukan budi daya sediaan herbal, PT HRL telah mendapat kepercayaan memanfaatkan tanah-tanah Perhutani Seluruh Indonesia, dalam program Perhutanan Sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga sekitar hutan,” katanya saat berada di kantor PT Fuboru Indonesia di Trosobo Kec. Taman Rabu (16/1/2018).

Heru menambahkan, Kerjasama tersebut telah ditindaklanjuti dengan Perhutani Jawa Timur, Jawa Tengah, dan lima propinsi di Kalimantan.

Pada setiap wilayah terdapat beragam topografi tanah, ketinggian (elevasi), kesuburan, disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dikembangkan.

“Sekarang ini kami memiliki berapa komoditas tersebut. Antara lain kencur, jahe, secang, temulawak, tongkat ali, dan dragon blood di Kalimantan Tengah,” sebut dia.

Dijelaskan Heru, untuk mengembangkan riset dan menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif, PT HRL lnternasional bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Di Jogja terbentuk PREAN (Pusat Riset Energi Alam Nusantara) terdiri atas para pakar Universitas Gajah Mada dan Univ Sanata Darma.

Beberapa praktisi farmasi juga bergabung dengan organisasi yang diprakarsai Presiden Direktur PT HRL Internasional, Heru Prasanta Wijaya tersebut.

“PT HRL lnternasional oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dilibatkan dalam konsorsium penyusunan regulasi herbal terstandar Indonesia, bersama dengan perusahaan farmasi atau jamu terkemuka nasional seperti Kalbe Farma, Kimia Farma,” pungkas Heru. (isa/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar