Ekbis

Petrokimia Gresik Tingkatkan Pasar Ekspor Pupuk Urea ke Filipina, India, dan Srilanka

Gresik (beritajatim.com) – Semester pertama tahun 2019, PT Petrokimia Gresik (PG), anak usaha PT Pupuk Indonesia (persero), kembali mengekspor pupuk urea ke Filipina, India, dan Srilanka. Ekspor pupuk urea itu dilakukan setelah tuntas memenuhi alokasi pupuk bersubsidi, sekaligus meningkatkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dollar AS.

Total di paruh awal pertengahan tahun 2019, pabrik pupuk yang berada di Gresik, Jawa Timur tersebut telah mengekspor 157,3 ribu ton. Angka itu jauh melebihi capaian ekspor urea PG pada semester tahun lalu. Bahkan, menjadi capaian tertinggi dalam sejarah PG mengekspor pupuk jenis urea sejak 2013.

Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik, Meinu Sadariyo menuturkan, selama semester pertama 2019 telah mengekspor pupuk urea 70,1 ribu ton dalam tiga kali ekspor.

“Pada 26 Juni 2019 sebanyak 5 ribu ton urea diekspor ke Filipina. Sebelumnya, PG telah mengekspor 20 ribu ton urea ke Sri Lanka serta 45,1 ribu ton pupuk urea menggunakan kapal MV Tomini Dynasty ke India. Ini menjadi rekor terbesar PG sepanjang sejarah ekspor urea dalam sekali muat,” ujar Meinu, Kamis (27/6/2019).

Lebih lanjut Meinu mengatakan, capaian ekspor yang dilakukan PG merupakan prestasi. Pasalnya, selama ini PG lebih dikenal di pasar NPK. Prestasi ini membuktikan bahwa PG juga mampu bersaing di pasar urea. “Di tengah tingginya pasokan urea yang mengalami oversupply, dan rendahnya harga urea di pasar internasional. PG mampu bersaing hingga melakukan ekspor ke beberapa negara di kawasan Asia,” jelasnya.

Sebelumnya, pada April dan Mei 2019, PG telah mengekspor pupuk Urea ke India masing-masing sebanyak 24,5 ribu ton dan 20,4 ribu ton. Sehingga, total kuantum ekspor urea PG ke India sebesar 90 ribu ton hingga Juni 2019.
Selain India, PG juga mengekspor Urea ke Filipina dan China.

Hingga Juni 2019, total kuantum ekspor ke Filipina sebesar 22,8 ribu ton dilakukan dalam tiga kali ekspor, yaitu 12,3 ribu ton pada bulan Maret, 5,5 ribu ton pada bulan Mei, dan terbaru 5 ribu ton pada Juni. Sedangkan ekspor urea ke China dilaksanakan pada Mei 2019 dengan total kuantum 24,5 ribu ton.

“Ekspor ini juga didukung keberadaan prduksi Urea Petrokimia Gresik cukup besar setelah beroperasinya pabrik Amoniak-Urea (Ammurea) II pada pertengahan tahun lalu. Sehingga, bisa mengekspor urea dalam jumlah yang lebih besar, namun dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri,” ungkap Meinu.

Ia menambahkan, langkah ekspor pupuk ini selaras dengan kebijakan holding PT Pupuk Indonesia (Persero), dimana perusahaan didorong untuk dapat berkontribusi dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Terlebih, saat ini Indonesia tengah mengalami defisit neraca perdagangan, sehingga peningkatan nilai ekspor sangat diperlukan untuk menyumbang devisa negara sekaligus mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. [dny/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar