Ekbis

Pemuda Kalianget Nilai Festival Garam Tak Layak Disebut Festival

Pembukaan festival garam

Sumenep (beritajatim.com) – Festival garam yang digelar di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep menuai sorotan. Salah satu pemuda setempat, Syarkawi menyayangkan festival tersebut yang tak layak disebut festival. Ia menilai penyelenggara festival itu tidak serius.

“Kalau materinya sih bagus, soal garam. Ingin mengangkat potensi garam di Sumenep. Tetapi kalau sajiannya seperti ini ya sangat disayangkan. Ini lebih mirip panggung 17-an di kampung,” katanya, Jumat (16/8/2019).

Ia menjelaskan, seharusnya festival garam dikemas lebih serius, dengan melibatkan para petani garam dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah pegaraman. “Jadi bisa dibahas soal harga garam, kemudian kebutuhan petani garam, keluhannya seperti apa, pertemukan dengan pemerintah, supaya bisa mendengar langsung apa kata para petani garam,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan ketidakhadiran Bupati dalam acara tersebut. Padahal acara tersebut termasuk dalam agenda Tahun Kunjungan Wisata Sumenep. “Seharusnya Bupati hadir dan mendukung acara ini. Festival Garam ini kan demi Sumenep juga,” ujarnya.

Sementara Ketua Panitia Festival Garam, Hamzah Fansuri menjelaskan, pihaknya memang sengaja mengemas festival yang menjadi bagian Visit Sumenep 2019 dengan bentuk berbeda.  “Festival Garam yang dikemas mirip pesta rakyat ini memang tidak mewah, karena berbasis kemasyarakatan. Poin pentingnya adalah keikutsertaan masyarakat,” ujarnya.

Karena itulah, lanjut Hamzah, ia mengolah festival garam dengan estetika kerakyatan. Apa yang disajikan dalam festival ini merupakan ekspresi masyarakat. “Apapun bentuknya bagi masyarakat, kesederhanaan merupakan bagian ekspresi mereka. Bisa saja berbeda dengan kacamata seniman lainnya,” ucapnya.

Festival garam tersebut diisi dengan berbagai acara, mulai pameran foto Kalianget Tempo Doeloe, kemudian lomba mengangkut garam, hingga diskusi tentang sejarah garam. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar