Ekbis

Pemkab Jember Tarik Combine Pengolahan Padi, Petani Mengeluh

Jember (beritajatim.com) – Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menarik sejumlah mesin combine yang digunakan untuk mengolah padi yang baru panen dari kelompok tani. Mesin tersebut kini diparkir di halaman kantor Disperta, sementara petani membutuhkannya saat musim panen.

Ada sepuluh kelompok tani dan gabungan kelompok tani yang meminjam combine yang masuk dalam program Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) tersebut. Penarikan dilakukan pada akhir 2018, setelah Musim Kemarau I. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jember Sucipto mengatakan, combine tersebut berstatus pinjam pakai.

“Sebenarnya bisa diperpanjang. Yang penting disiapkan garasinya. Kelompok tani sudah siap semua, sudah dibikinkan garasinya. Seharusnya bisa diperpanjang setelah ada sertifikasi dari penyuluh atau dinas, mengecek kondisi di lapangan,” katanya.

Kelompok tani sudah membuat proposal untuk perpanjangan masa peminjaman combine ini dan memasukkannya ke Disperta dua tiga bulan terakhir. Namun hingga memasuki masa panen saat ini, permohonan itu belum dikabulkan. Padahal, menurut Sucipto, combine sangat membantu petani saat panen. “Pertama, untuk mengurangi loses atau kehilangan (isi gabah). Hasil gabah juga lebih bagus dan lebih mahal dibandingkan dengan manual,” katanya.

Sucipto mendengar penarikan dilakukan untuk penataan ulang. “Tapi menjalankan combine ini banyak biayanya, sampai Rp 20 juta untuk mengadakan gerobaknya. Kalau tidak ada gerobaknya, untuk menyeret (combine) ke sawah kan tidak bisa,” katanya.

Sebenarnya sejumlah kelompok tani memiliki combine bantuan hibah pemerintah. Namun, menurut Sucipto, jumlahnya masih kurang memadai. “Padi ini kan hamparannya luas sekali. Kalau pakai combine Hamster, dalam waktu satu hari kalau medannya tidak enak, seperti becek, ada kendala cuaca hujan, minimal (padi yang diolah) bisa dua hektare. Tapi kalau enak, ngejos, bisa tiga hektare,” katanya.

Menurut Sucipto, efektivitas pemakaian combine juga tergantung lokasi lahan. Jika lahan terpisah-pisah, maka butuh waktu untuk membawanya dari lahan satu ke lahan lainnya. Namun jika sawah yang hendak digarap terkumpul dalam satu blok lokasi, maka pengerjaan combine bisa lebih cepat dan luas. Kelompok-kelompok tani yang meminjam combine ini mengelola 20-100 hektare lahan, sementara gabungan kelompok tani menggarap 400-500 hektare. Kelompok tani dan gapoktan ini sudah berbadan hukum.

Combine sudah digunakan selama tiga musim panen. “Sebenarnya (penggunaan) combine ini sudah terkoordinasi. Ada asosiasi atau paguyuban combine. Satu combine ini bisa mengerjakan hingga 20 hektare,” kata Sucipto. Alhasil tanpa combine, panen pun dilakukan secara manual.

Abdul Rasyid, Ketua Gabungan Kelompok Tani Bina Rejeki yang menaungi delapan kelompok tani di Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, mengatakan, penggunaan combine di kalangan petani sebagai bagian dari program mekanisasi pertanian sudah berlangsung sejak 2011. “Tingkat kehilangan hasil (loses) bisa ditekan sampai dua hingga lima persen, dibandingkan jika panen secara konvensional, tingkat kehilangan bisa sampai 15 persen,” katanya.

“Kedua, biaya operasional pasca panen jika menggunakan combine lebih sedikit. Ketiga, mutu padi sangat terjamin. Jika hasil panen konvensional dihargai Rp 400 ribu per kuintal, kalau pakai combine Rp 410 ribu per kilogram. Terakhir, produksinya lebih tinggi. Kalau pakai konvensional, petani memanen tujuh ton padi per hektare. Kalau pakai combine, bisa 7,5 ton padi,” kata Rasyid.

Menurut Rasyid, banyak petani yang bertanya soal keberadaan combine itu setelah ditarik pemerintah Pemkab Jember pada Desember 2018. “Teman-teman sepuluh kelompok pemakai combine sudah mengajukan proposal peminjaman lagi sejak tiga bulan lalu, dari Bangsalsari, Balung, Kencong, Wuluhan, Puger. Petani sekarang sangat butuh. Petani kalau sudah pakai mekanisasi pertanian, tidak mau konvensional,” katanya. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar