Ekbis

Panen Pertama Petani Sekitar Sungai Bengawan Solo

Bojonegoro (beritajatim.com) – Petani di sekitar Sungai Bengawan Solo memasuki panen pertama di tahun 2019. Harga gabah pada panen pertama petani di Daerah Aliran Sungai (DAS) itu terbilang cukup baik. Harga gabah basah dari sawah mencapai Rp5.200 perkilogram.

Kepala Desa Pucangarum, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Sanawi mengatakan, harga gabah pada panen pertama ini cukup baik. Karena, lanjut dia, harga gabah basah masih stabil dibandingkan dengan harga gabah basah pada panen akhir tahun 2018 lalu.

“Harga ini terbilang cukup tinggi dibandingkan harga panenan pada musim hujan tahun 2017 lalu senilai Rp 4.200 perkilogram,” ujarnya Selasa, (15/1/2019).

Selama musim hujan, Sanawi mengatkan, lahan petani biasanya kebanjiran. Namun, saat musim penghujan tahun lalu aman dari banjir. Pada musim hujan tahun ini, dia tidak bisa memprediksi harga gabah akan tetap stabil. Mengingat, cuaca yang terjadi beberapa terakhir terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Panen hari ini kemungkinan akan ada penurunan karena faktor cuaca ekstrem, tetapi sedikit antara Rp200 sampai Rp300 perkilogramnya, dan harga terendah nanti kami prediksi masih Rp 4.800 perkilogram,” terangnya.

Dia menambahkan, luas lahan Desa Pucangarum yang hari ini panen seluas 277 hektare. Selain Desa Pucangarum, di Kecamatan Baureno ada Desa Lebaksari, Kadungrejo, Kauman, Karangdayu dan Pomahan juga panen raya.

Sementara di Kecamatan Kanor, sejumlah desa juga panen diantaranya Desa Kedungprimpen, Gedongarum, Temu, Prigi, Pilang, Semambung dan Desa Kanor serta beberapa desa lain yang tersebar dk aliran Sungai Bengawan Solo. “Desa Pucangarum mengawali panen karena tanamnya maju. Untuk serentak panen raya kemungkinan dua minggu lagi,” papar Sanawi.

Kadir (54) salah seorang petani menambahkan, pasca panen musim hujan ini dia bersama petani lainnya akan langsung melakukan tanam padi lagi. Dia meyakini, meski terjadi hujan dengan intensitas tinggi, namun tidak akan sampai menggenangi lahan padi petani.

“Tetapi masih nunggu koordinasi dahulu dengan pengurus Hippa dan desa lainnya. Tapi kemungkinan tanam lagi,” ujarnya menambahkan. [lus/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar