Ekbis

Kopi dan Karet Bukan Lagi Idola BUMD Perkebunan Jember

Hariyanto

Jember (beritajatim.com) – Kopi dan karet bukan lagi komoditas idola Perusahaan Daerah Perkebunan Kahyangan, sebuah badan usaha milik daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Harga mulai merosot.

“Sekarang ini PDP mulai kami tata kembali, dengan progres yang jelas harus ada terobosan. Tanpa ada terobosan, mati. Ini karena komoditas utama yang dikelola selama ini, kopi dna karet, sudah tidak bisa mengejar. Harga semakin turun dan produktivitas berkurang,” kata Direktur Utama PD Perkebunan Hariyanto.

“Produktivitasnya kini hanya 30 persen dari kondisi sebelumnya. Ini karena umur mereka sudah tua dan populasi berkurang. Di satu sisi harga sudah turun, sekarang harga ekspor Rp 20 ribu per kilogram untuk karet. Kami punya patokan pasar dunia, dan sekarang kami jual baru lokal. Sementara untuk kopi, kisaran harganya Rp 26-27 ribu. Kalau dulu Rp 30 ribu. Kami mengikuti harga pasar,” kata Hariyanto.

PD Perkebunan sebenarnya sudah meremajakan tanaman sejak beberapa tahun silam. Namun peremajaan dinilai tak cukup efektif. “Biaya peremajaan cukup tinggi. Kami menunggu hasil setelah enam tahun. Ini bertahap. Tapi kami sudah menghitung-hitung layak tidaknya dikaitkan dengan harga karet dunia. Harga karet sekarang anjlok,” kata Hariyanto.

Kondisi ini membuat PD Perkebunan mengalami kesulitan untuk berkembang. Hariyanto melakukan terobosan diversifikasi tanaman. “Kami akan membuat tanaman untuk minya atsiri. Sementara ini masih seratus hektare. Sementara yang kami kembangkan adalah sereh wangi. Ini masih baru mulai. Kira-kira sudah bisa kami jual pada April 2019,” katanya.

PD Perkebunan tak akan lagi fanatik dengan kopi dan karet. Kemungkinan luas lahan dua komoditas ini akan dikurangi, karena memakan biaya operasional cukup besar. “Sekarang satu hektare karet cuma dapat keuntungan Rp 4-5 juta. Satu tahun per hektare. Kalau ditanami jagung, sudah dapat berapa?” [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar