Ekbis

Keren.. Ubah Ban Bekas Jadi Barang Ramah Lingkungan

Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal dari program pemerintah untuk melakukan penghijauan, membuat Djanuri (40) memanfaatkan ban motor maupun mobil bekas. Warga Dusun Gayaman RT 3 RW 1, Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini menyulap menjadi barang ramah lingkungan.

Ban bekas tersebut ia sulap menjadi barang ramah lingkungan, seperti tong sampah, pot bunga, sofa maupun hiasan taman. Kerajinan tersebut ia mulai sejak tiga tahun lalu, secara otodidak omzet bapak tiga anak ini mencapai Rp6 juta sampai Rp7 juta per bulan.

“Ide awal, berangkat dari program penghijauan dan di lingkungan sini membuat green house. Warga membeli pot dari bahan semen ternyata tidak bertahan lama, kemudian saya lihat banyak ban berserakan,” ungkapnya, Selasa (18/2/2019).

Ban bekas biasanya hanya digunakan sebagai bahan bakar bata merah. Secara otodidak iapun belajar dari youtube kemudian dijual melalui teman, ternyata respon bagus sehingga dilanjutkan. Menurutnya, kerajinan tersebut merupakan kerajinan musiman.

“Jika ada program atau sekolah mengadakan penghijauan maka banyak yang pesan. Semua jenis ban, mulai dari ban sepeda motor hingga truk tapi untuk ban sepeda motor lebih ke ban belakang karena lebih besar sehingga luas. Ban bekas bagian luar yang digunakan,” katanya.

Selain tong sampah, sofa dan pot bunga, ia juga bisa memenuhi pesanan sesuai permintaan. Seperti ayunan dan hiasan taman (tulisan, tempat duduk karakter binatang, red). Menurutnya, bahan dasar tersebut cukup mudah ditemukan sehingga tidak sampai mencari dari luar Mojokerto.

“Ban bakas ini saya dapat dari beberapa tambal ban di pinggir jalan. Untuk harganya, ban motor Rp1 ribu per biji bisa jadi satu pot bunga dengan harga Rp30 ribu. Ban mobil Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per biji tergantung ambilnya. Bisa diolah jadi sofa, pot bunga dan tempat sampah,” tuturnya.

Satu ban jadi satu pot bunga seharga Rp70 ribu, tempat sampah Rp95 ribu, sofa 350 ribu. Satu set sofa seharga Rp1 juta, isi dua kursi dan satu meja. Djanuri menjelaskan, cara pembuatan barang ramah lingkungan tersebut cukup dengan membalik ban bekas.

“Kemudian dirangkai sesuai barang yang akan dibuat, seperti pot bunga. Dipotong dengan bentuk bergelombang, potongannya ditaruh dibawah jadi tidak ada yang tersisa. Setelah jadi dicat menggunakan cat besi dan tembok biar cepat kering,” jelasnya.

Setelah itu baru dilukis dan dijemur selama satu hari. Saat ini, ia memiliki lima karyawan untuk melakukan pengecatan karena untuk pembuatan kerajinan tersebut ia kerjakan sendiri. Menurutnya, karyawan akan bekerja saat malam hari.

“Mereka bukan pekerja tetap tapi malam hari setelah mereka pulang kerja saya minta datang untuk mengerjakan, biasanya mulai jam 7 malam sampai 2 dini hari. Aktivitas disini lebih banyak malam hari karena saya juga kerja di jasa pengetikan,” tuturnya.

Djanuri menuturkan, untuk pemasaran barang kerajinan melalui online dan reseller. Yang pesan mulai dari Jombang, Sidoarjo dan Malang. Namun karena banyaknya barang kerajinannya yang sudah mulai rusak, sehingga saat ini ia membuka reparasi.

“Untuk reparasi baru setengah tahun, kalau beli baru tempat sampai sampai Rp95 ribu tapi untuk reparasi menjadi baru lagi cukup Rp30 ribu. Karena kalau menjadi sampah juga susah memusnahkannya, harus dibakar tapi kalau direparasi bisa jadi baru lagi,” paparnya.

Daya tahan barang kerajinan dari ban bekas, tegas Djanuri, cukup lama. Yakni sekitar lima tahun. Dalam setiap minggu, ia mengaku rata-rata bisa mengerjakan 15 pot bunga, 10 sampah dan 2 set sofa dengan omset Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan.

“Kalau keuntungan bersih bisa sampai 80 persen dari biaya produksi karena memang bahannya cukup murah dan mudah dicari, tidak sampai harus mencari dari luar Mojokerto. Di Mojokerto cukup banyak dan saya sudah ada langganan tukang tambal ban,” pungkasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar