Ekbis

Jember Tak Bisa Hanya Andalkan Embarkasi Antara

foto: pesawat Lion air

Jember (beritajatim.com) – Saat ini Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, tengah berupaya membangun embarkasi haji antara dan dimulai dari perbaikan Bandara Notohadinegoro.

Namun Alvin Lie, pengamat penerbangan dan anggota Komisi Ombudsman RI, mengatakan, Jember tak bisa hanya mengandalkan embarkasi antara haji dan umrah untuk mendongkrak bisnis penerbangan di sana.

“Kalau cuma dari haji saja tidak cukup. Haji itu kan pemberangkatan paling dua minggu dalam setahun. Ada 52 minggu dalam setahun. Terus 50 minggu dalam setahun mau hidup dari mana, kan harus diperhitungkan. Jamaah umrah juga tidak semua berangkat dari Jember. Mereka tidak bisa dipaksakan,” kata Alvin saat dihubungi via ponsel, Sabtu (19/1/2019).

Alvin mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jember harus mengembangkan daya tarik multi aspek. “Jadi jangan fokus pada (hanya pembangunan) bandaranya, tapi fokus pada Jember. Kembangkan kawasan Jember, apa yang membuat orang mau datang. Haji dan umrah hanya memberangkatkan orang sekitar Jember, tapin tidak mendatangkan orang luar. Kalau ramainya pesawat hanya one way (Jember ke Surabaya), airlines juga rugi,” katanya.

Daya tarik daerah menjadi kunci bisnis penerbangan di Jember, karena saat ini harus menghadapi persaingan dengan Banyuwangi. Dua kota ini berdekatan, namun sama-sama memiliki bandara.

“Di Jawa Tengah, ada tiga bandara kelas menengah yang berdekatan: Semarang, Jogja, Solo. Tapi karena punya pasar sendiri-sendiri, tetap hidup. Kalau di Jatim, Banyuwangi dan Jember ini bukan soal bandaranya, tapi tergantung pemda mempromosikan daerah masing-masing. Jadi masing-masing daerah harus punya daya tarik. Kalau tidak, dropnya (jumlah penumpang pesawat akan) signifikan,” kata Alvin.

“Keberadaan bandara harus didukung berbagai daya tarik daerah. Ada daya tarik ekonomi, perdagangan, perindustrian, pertanian, pertambangan. Ada daya tarik politik, misal ibu kota provinsi. Ada daya tarik sosial, ada kebudayaan, kesenian, pendidikan, kuliner untuk wisata. Bahkan sekarang ada wisata kesehatan. Ini kan harus dipromosikan. Sekarang Jember ini apa yang dipromosikan dan harus memberi alasan orang datang ke Jember,” kata Alvin.

Alvin juga menyarankan perlu adanya identifikasi karakteristik penumpang pesawat yang datang ke Jember.
“Yang mau terbang ke Jember ini dari mana? Apakah dari Jakarta atau mau menarik dari luar pulau. Jadi rute berpengaruh. Kalau cuma dari Jakarta, ada saingan dengan tol trans Jawa. Tapi kalau dari luar pulau, kan tidak ada saingannya. Pesaingnya cuma kapal. Tapi Jember ini mau dikembangkan sebagai bandara apa: penumpang, atau kargo. Kalau kargo, harus ada perdagangan dan perindustrian, kargo masuk dan keluar,” katanya. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar