Ekbis

Intiland Bukukan Pendapatan Senilai Rp 2,6 Triliun

Surabaya (Beritajatim.com) – Di tengah masih lesunya sektor properti, PT Intiland Development Tbk membukukan kinerja keuangan yang cukup baik. Pendapatan mereka naik 16 persen atau sebesar Rp 2,6 triliun, dibandingkan perolehan 2017 yang mencapai Rp 2,2 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menjelaskan meningkatnya pendapatan usaha tahun 2018 terutama disebabkan oleh meningkatnya kontribusi pendapatan pengembangan (development income) di segmen mixed-use and high rise, kawasan perumahan, dan kawasan industri. Perseroan juga berhasil mendongkrak kontribusi dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) secara positif.

“Meningkatnya pendapatan usaha terutama didorong oleh pengakuan penjualan dari proyek-proyek yang masuk tahap penyelesaian. Meskipun kondisi pasar properti secara umum cenderung masih flat di sepanjang 2018, beberapa proyek berhasil meningkatkan penjualan,” kata Archied

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan usaha dari development income memberikan kontribusi terbesar mencapai Rp2,0 triliun atau 76,6 persen dari keseluruhan. Sementara kontribusi recurring income tercatat mencapai Rp596,4 miliar, atau 23,4 persen. Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat masih memberikan kontribusi terbesar, mencapai Rp819,5 miliar, atau 32,1 persen.

Dibandingkan tahun 2017, pendapatan dari segmen ini meningkat 16,5 persen. Peningkatan ini terutama dari tingginya nilai pengakuan penjualan dari proyek-proyek yang masuk tahapan penyelesaian seperti apartemen 1Park Avenue, Regatta, Praxis, Graha Golf, The Rosebay, dan Spazio Tower.

Kontributor terbesar berikutnya berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan yang mencapai Rp629,6 miliar atau 24,7 persen. Pendapatan usaha dari segmen ini melonjak 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp420 miliar.

“Peningkatan ini terutama berasal dari pengakuan penjualan unit-unit rumah di Graha Natura, Serenia Hills, Magnolia Residence, Talaga Bestari, Graha Famili, dan Griya Semanan yang sudah serah terima,” ungkap Archied.

Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp507 miliar atau 19,9 persen. Pendapatan dari segmen ini berasal dari penjualan lahan industri di kawasan industri Ngoro Industrial Park di Mojokerto.

Archied menjelaskan, di 2018 perseroan juga berhasil meningkatkan kinerja pendapatan dari segmen property investment yang merupakan sumber recurring income. Dibandingkan perolehan tahun 2017 yang mencapai Rp528,2 miliar, perolehan recurring income perseroan di 2018 sebesar Rp 596,4 miliar atau meningkat 12,9 persen. Kontribusi pendapatan dari segmen ini berasal dari pengelolaan kawasan, fasilitas olah raga, penyewaan perkantoran dan ritel, serta fasilitas standart factory building di kawasan industri.

Seiring dengan meningkatnya pendapatan usaha, perseroan berhasil menjaga kinerja laba kotor yang mencapai Rp1 triliun, atau naik 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, kendati laba kotor meningkat, kinerja laba usaha dan laba bersih perseroan mengalami penurunan.

Laba usaha perseroan tahun 2018 tercatat mencapai Rp326,8 miliar dan laba bersih sebesar Rp 203 miliar. Pencapaian tersebut masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,2 persen dan 31,6 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya margin laba kotor dan tingginya beban bunga.

Perseroan memproyeksikan kondisi pasar properti tahun ini masih belum banyak mengalami perubahan. Pilihan konsumen yang masih cenderung bersikap wait and see dan menahan investasi dan belanja properti dapat menyebabkan pasar melemah.

“Kami masih mempertahankan langkah dan strategi konservatif di tahun ini. Namun, tetap melihat
semua peluang untuk meningkatkan kinerja usaha. Rencana pengembangan proyek baru tetap ada, namun harus melihat daya serap dan arah perubahan pasar,” tandasnya. [rea/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar