Ekbis

Ini Dia Pandangan Alumni Kelautan tentang Tol Laut

Surabaya (beritajatim.com) – Tol laut memang menjadi terobosan kebijakan yang paling membanggakan setelah selama ini transportasi laut seolah terabaikan. Tetapi tol laut pada realisasinya belum mampu menurunkan disparitas harga barang antara pulau Jawa dan luar Jawa.

Hal ini terungkap dalam acara Kemaritiman Talk show dan Halal Bihalal Alumni Fakultas Teknologi Kelautan Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Hotel Majapahit, Sabtu (29/30/2019). Dalam acara yang dihadiri puluhan alumni serta pelaku usaha Kemaritiman di Indonesia ini lebih banyak menyorot tentang tol laut yang harus melakukan koordinasi dengan banyak lembaga agar sinergitas dan efektifitas tol laut yang dicita-citakan benar-benar terjadi.

“Kebijakan tol laut sudah berjalan dengan baik hanya saja memang perlu merangkai kerjasama yang baik antar sektor. Terutama dari sisi komoditas yang layak jual. Seperti dari Timur bisa menjual ikan ke wilayah barat begitu juga sebaliknya,” ungkap Prof. Ir. Syarief Wijaya, PhD. FRINA, Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sementara Bambang Haryo, Anggota DPR RI yang juga hadir dalam acara itu menyampaikan jika tol laut justru belum optimal dan hanya menguntungkan tengkulak. Alih-alih mau menurunkan disparitas harga barang, malah tengkulak yang diuntungkan dengan biaya pengiriman kapal yang murah dan disubsidi sementara di pasar mereka tetap menjualnya dengan harga yang tinggi seperti sebelum adanya subsidi melalui program tol laut.

“Jalur tol lain juga dijalur utama bukan dijalur perintis. Sehingga mematikan pengusaha perkapalan swasta,” kritik Bambang.

Sementara menurut Ir. Dwi Budi Sutrisno, M.Sc., Kepala Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, mengaku tol laut targetnya dalam 5 tahun kedepan semuanya diserahkan ke swasta. Tetapi untuk saat ini pihaknya berupaya menggali potensi di timur Indonesia untuk bisa diangkut ke barat. Menjawab keluhan swasta, Budi mengaku saat ini yang berlayar untuk tol laut yang disubsidi hanya 200 samapi 300 kapal sedangkan swasta punya 30 ribu kapal.

Sementara Saut Gurning ST, M.Sc., PhD, Dosen FTK ITS yang juga pakar kemaritiman mengaku jika Tol Laut memang dibutuhkan. Namun jika di ranking dengan Point tertinggi 10, maka nilai kinerja tol laut baru 5. Alasannya karena tol laut masih bicara angkutan dan  belum mampu kontrol cargonya sehingga disparitas harga masih belum bisa dikendalikan.

“Tol laut harus tetap ada, hanya saja semua stakeholder mulai dari perikanan, pertanian, perdagangan harus terlibat dan bersinergi penuh. Sehingga logistik bisa dikendalikan dan disparitas harga pun bisa ditekan,” tandasnya.[rea]

Apa Reaksi Anda?

Komentar