Ekbis

Harga Ayam Potong Anjlok, Ada Monopoli Segelintir Perusahaan Besar?

Mojokerto (beritajatim.com) – Para peternak ayam potong di Mojokerto menjerit lantaran harga ayam potong di tingkat peternak anjlok hingga Rp8 ribu/kg. Monopoli yang dilakukan segelintir perusahaan besar disinyalir menjadi penyebab anjloknya harga ayam potong tersebut.

Koordinator Kelompok Peternak Ayam Broiler Mojokerto, Bagus Dian Pratama mengatakan, ada dua jenis perusahaan yang berperan dalam budidaya ayam potong di Mojokerto. “Perusahaan kemitraan mandiri dan perusahaan integrator,” ungkapnya, Jumat (28/6/2019).

Bagus menjelaskan, perusahaan kemitraan mandiri tidak memproduksi pakan ternak maupun bibit ayam broiler. Namun hanya menyuplai pakan, bibit, obat-obatan dan vitamin kepada peternak yang menjadi mitra mereka. Tetapi saat ayam siap panen perusahaan inilah yang mengambil.

“Perusahaan tersebut mengambil ayam dari peternak untuk dijual ke pasar-pasar tradisional di wilayah Mojokerto, Surabaya, Jombang, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo dan Lamongan. Namun berbeda dengan perusahaan integrator,” katanya.

Sementara perusahaan integrator bergerak di bidang produksi pakan ternak, memiliki fasilitas pembibitan dan budidaya ayam dengan skala besar. Menurutnya, saat ini integrator tersebutlah yang memonopoli bisnis ayam mulai hulu sampai hilir.

“Populasi ayam di Mojokerto saat ini mencapai 1,2 juta ekor. Suplai ayam ke pasar-pasar tradisional setiap pekannya mencapai 900 ribu ekor. Dari jumlah itu, sekitar 30-32 persen atau 360-384 ribu ekor ayam dibudidayakan oleh perusahaan integrator,” tuturnya.

Harga break even point (BEP) ayam budidaya perusahaan integrator di bawah Rp10 ribu/kg lantaran pakan dan bibit ayam diproduksi perusahaan integrator. Sementara harga BEP para peternak mandiri di Mojokerto Rp18 ribu/kg.

“Biaya perawatan ayam tinggi sehingga harga di peternak mandiri lebih mahal. Sementara perusahaan integrator masuk pasar tradisional. Karena banyaknya populasi ayam, imbasnya suplai melimpah. Harga anjlok lantaran mereka mengobral dengan harga murah supaya cepat laku,” jelasnya

Namun, lanjut Bagus, perusahaan kemitraan mandiri tidak mempunyai kemampuan modal untuk memainkan harga ayam broiler di pasar. Pasalnya, perusahaan kecil sudah terikat kontrak harga dengan para peternak Rp17 ribu hingga Rp18 ribu/kg.

“Jelas rugi kalau harga anjlok. Kita tidak mungkin melawan monopoli perusahaan integrator, kita hanya berharap perusahaan integrator berhenti menyerbu pasar-pasar tradisional dengan ayam hasil budidaya peternak,” harapnya.

Para peternak berharap perusahaan integrator mempunyai pasar sendiri. Misalnya hotel dan restoran. Selain itu, Bagus menduga ada permainan para pedagang ayam karena selisih yang jauh antara peternak dan penjualan daging ayam di pasar.

“Seharusnya selisih harga ayam dantara peternak dengan pasar maksimal Rp12 ribu/kg. Tapi sekarang di peternak Rp8 ribu/kg, di pasar Rp28 ribu sampai Rp30 ribu/kg. Anjloknya harga ayam dimanfaatkan dengan mengambil untung banyak,” pungkasnya.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar