Ekbis

Gulma, ‘Musuh’ Petani Kopi di Musim Hujan

Tanaman Kopi Milik Gana Heri di Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Sabtu (12/1/2019).

Malang (beritajatim.com) – Gulma tanaman kopi namanya. Gulma sendiri merupakan tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Salah satunya, pada tanaman kopi di Kabupaten Malang.

“Kami berharap tahun ini hasil panen kopi lebih baik dari tahun kemarin,” tegas Gana Heri, Petani Kopi asal Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Sabtu (12/1/2019).

Menurut Heri, curah hujan tinggi dan tidak menentu tahun 2018 lalu, menghasilkan pertumbuhan buah kopi kurang maksimal. Terlebih, karakteristik air hujan bagi tanaman kopi ini, berbeda antara hujan pada siang hari dengan hujan pada malam hari.

“Siraman air hujan yang mengenai tanaman kopi pada siang dan malam hari ini berbeda mas. Kalau hujan siang bagus untuk pertumbuhan kopi, kalau hujan malam gak bagus karena biji kopi bisa runtuh semua,” papar Heri.

Hujan diwaktu malam, beber Heri, berpengaruh pada buah dan bakal biji kopi. Ia sendiri kurang paham apakah ada unsur lain sehingga hujan di malam hari, bisa merontokkan biji kopi miliknya.

“Saya punya robusta, klone nya F700 mas. Biji kopi bisa rontok kalau kena hujan malam,” urainya.

Heri melanjutkan, selama musim penghujan saat ini, petani kopi seperti dirinya hanya butuh membersihkan gulma dan rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman kopi. “Gulma tanaman kopi kalau tidak cepat kita bersihkan bisa merusak tanaman kopi. Biasanya ada dua cara menanggulanginya, pertama kita jombret pakai mesin pemotong rumput. Kedua kita semprot pakai herbisida,” tutur Heri.

Khusus rumput liar, tambah Heri, harus dibersihkan minimal 3 sampai 4 kali dalam setahun. Keberadaan rumput ini, cukup mengganggu pertumbuhan tanaman kopi. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar