Ekbis

Gandeng UNS, Sanggar Bagaskara Kembangkan Batik Motif Majapahit

Mojokerto (beritajatim.com) – Sanggar Bagaskara di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mengandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk mengembangkan batik motif Majapahit. Hasil riset yang telah dilakukan beberapa tahun menghasilkan puluhan desain batik dan dua diantaranya sudah didaftarkan hak cipta.

Ketua Tim Penelitian untuk pengembangan desain batik Majapahit, Setiawan mengatakan, potensi batik Majapahit luar biasa untuk dikembangkan dan UNS tertarik mengembangkan. “Sehingga ilakukan penelitian dua tahun ini,” ungkapnya, usai pembukaan Pameran Eksplorasi Visul Desain Batik Majapahit, Sabtu (26/10/2019).

Masih kata dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain, UNS Solo ini, hasil riset dari tiga seminar internasional yang diikuti disambut dengan baik. Terakhir, tanggal 22 hingga 25 September lalu seminar di Thailand, yang memperkenalkan batik Majapahit cukup mendapatkan respon positif karena kekuatan gambar yang tidak dipunyai daerah lain.

“Banyak yang mengapresiasi. Gambar Majapahit punya ciri khas yang kuat, daerah lain gambar flora fauna hampir sama tapi tidak Majapahit. Ini yang ingin kita tonjolkan. Hasilnya, ada lebih dari 25 desain batik yang dihasilkan dengan mengembangkan desain berbasis terakota Majapahit,” katanya.

Dari segala artefak yang ditemukan di Trowulan, tegas Setiawan, bisa dikembangkan. Apapun yang ditemukan dari pengalian arkeologi di Trowulan bisa menjadi motif batik Majapahit. Namun tetap menguasai prinsip desain batik, ia bersama Anung B Studyanto mendampingi dan melatih para pengrajin di Desa Bejijong tentang dasar batik secara sederhana.

Setiawan menjelaskan, ada ribuan artefak yang ditemukan di Trowulan bisa dikembangkan menjadi motif batik Majapahit. Ada dua desain batik Majapahit hasil kerjasama UNS dan Sanggar Bagaskara yang sudah didaftarkan di hak cipta dan sudah diproduksi sebagai kain batik.

“Yakni Batik Majapahit Riak Segaran Surawina dan Batik Majapahit Kembang Segaran. Kita buat bersama-sama untuk dikembalikan menjadi milik bersama dan bisa dikembangkan lagi menjadi ciri khas sini. Karena banyak sekali batik yang saling meniru, sertifikat keluar dua ini,” tuturnya.

Namun, lanjut Setiawan, rencananya semua desain batik hasil kerjasama UNS dan Sanggar Bagaskara akan didaftarkan dan dikembalikan ke masyarakat Desa Bejijong. Meski dua desain batik sudah memiliki hak cipta, namun ada kendala dalam pengembangan untuk produksi massal.

“Kendalanya akan kita sikapi dengan bagaimana nantinya lebih disederhanakan lagi, kemungkinan masih perlu disesuaikan dengan kemampuan pengrajin. Dengan didaftarkan di hak cipta, ini menjadi milik kita dan orang lain tidak bisa meniru desain yang sudah didaftarkan ini. Kedepan, UNS akan mengadakan pelatihan kepada para pengrajin batik di Desa Bejijong,” jelasnya.

Yakni untuk memindah desain ke kain menjadi batik tulis. Hal tersebut, terang Setiawan, merupakan langkah kecil untuk pengembangan batik Majapahit. Jika berhasil tahun depan UNS akan mengajukan program desain yang bisa diproduksi di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

“Kita juga sedang proses melakukan penelitian Candi Minak Jinggo karena secara visual unik, peletnya bergaya Majapahit kuat sekali ciri khasnya. Punya ikonografi kuat yang tidak dipunyai daerah lain yang punya kekhasan visual seperti itu sehingga kita bisa mengembangkan banyak sekali dari satu relief Minak Jinggo. Karena gambaran Majapahit jaman lampau ada di Minak jinggo,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Bhagaskara, Supriyadi mengatakan, digandengnya UNS untuk mengembangkan desain batik Mojopahit karena UNS dinilai sebagai universitas yang potensial. “Satu sisi domisili di Solo. Kita ketahui solo basic nya batik, kenapa sehingga mengerucut ke sana,” lanjutnya.

Menurutnya, Kampung Majapahit untuk menuju percepatan menjadi destinasi pariwisata level Jawa Timur tidak bisa berjalan sendiri. Harus melibatkan semua pihak termasuk dari berbagai akademis, pemerintah daerah, provinsi dan pihak ketiga. Sehingga untuk industri kreatif, Sanggar Bagaskara menggandeng UNS.

“Universitas yang kredible masuk sini, percepatan Bejijong sebagai destinasi wisata akan cepat terwujud. Karena kami bermimpi ke depan Bajijong punya ciri khas batik Majapahit. Riset antara UNS dan Sanggar Bagaskara bisa dilihat dalam pameran yang berlangsung sampai tanggal 30 nanti. Konsepnya bagaimana hasil riset UNS bisa dikembangkan masyarakat,” harapnya.

Khususnya kelompok Sanggar Bagaskara yang memiliki 15 pengrajin batik sehingga menjadi ekonomi kreatif yang bisa memanfaatkan dan mengembangkan. Harapannya, lanjut Supriyadi, batik Majapahit sebagai branding, memiliki kelas tersendiri, meski batik terlambat hadir tapi punya image dan tidak menjiplak daerah lain.

“Kita berharap UNS bisa terus mendampingi kita untuk memberikan suport ke pengrajin, syukur lewat pengadaan baju ASN dan bisa kolaborasi dengan semua komunitas tidak hanya disini. Yang penting bisa mewujudkan desain batik lain dari yang lain,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, dua desain batik Majapahit hasil kerjasama UNS dengan Sanggar Bagaskara yang sudah memiliki hak cipta yakni Batik Majapahit Riak Segaran Surawina. Yakni desain batik tulis dengan mengolah kembali motif warisan tradisi perupaan (visual) Majapahit berupa Surawina yakni figur mahkluk air dari cerita rakyat yang banyak dijumpai pada terakota.

Segaran adalah kolam kuno peninggalan kerajaan Majapahit yang dibangun dengan menggunakan bahan bangunan bata khas Majapahit. Pada zaman kerajaan Majapahit, Kolam Segaran digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Surya Majapahit adalah hiasan motif berbentuk matahari (surya) ditafsirkan sebagai lambang Majapahit dan dipakai sebagai lambang legalitas dan legitimasi kerajaan Majapahit

Desai kedua yakni, Batik Majapahit Kembang Segaran adalah desain batik tulis dengan mengolah kembali motif warisan tradisi perupaan (visual) Majapahit berupa kembang (bunga) dan Segaran. Batik Majapahit Kembang Segaran menggambarkan bunga teratai atau padma yang mengambang dan mekar di Segaran Majapahit. Pada zaman Majapahit motif padma atau teratai mempunyai peranan yang penting dalam ragam hias.

Ada tiga macam bunga padma yang digambarkan pada motif batik ini, yaitu teratai merah biasa disebut padma yang digambarkan masih kuncup; teratai biru (utpala) dengan ciri daun bunganya tidak lebar dan digambarkan setengah mekar, dan teratai putih (kumuda) daun bunganya lebar dan runcing digambarkan mengapung di atas air.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar