Ekbis

Disnaker Malang Fasilitasi Peserta Batik Inklusif Belajar Corak Batik Trinil

Malang (beritajatim.com) – Disnaker Kabupaten Malang memfasilitasi Peserta Batik Inklusif untuk mempelajari Corak Batik Trinil Probolinggo, Kamis (27/6/2019).

Fasilitas studi banding ke sentra Batik Trinil 36 Kota Probolinggo itu, setelah Disnaker Kabupaten Malang, lebih dulu memberikan pelatihan cara membatik bagi penyandang difabel di tempat ini.

Batik Trinil 36 sendiri, dimiliki oleh Wiyono, seorang perajin sekaligus pengusaha batik yang menjadi icon sentra batik di Kota Probolinggo. Keunggulan batik besutan Wiyono, menggunakan pewarnaan alam. Dimana bahan bakunya, berasal dari daun dan bunga yang biasa ditemukan di lingkungan sekitar.

Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang, Lilik Faridah menjelaskan, tujuan studi banding ke Batik Trinil 36, agar para peserta pelatihan batik yang juga berasal dari disabilitas tidak hanya mendapatkan teori dan bekal pelatihan saja. Namun juga mendapatkan ilmu dari sentra produksi batik lainnya seperti di Kota Probolinggo.

“Kami mengajak peserta pelatihan batik inklusif agar belajar lebih dekat proses pembuatan batik dengan pewarnaan alami. Keunggulan inilah yang membuat kami melakukan studi banding ke sini,” bebernya.

Lilik menjelaskan, kunjungan ke sentra batik Probolinggo, juga untuk mematangkan kerjasama antara Disnaker, LPK Ganesha sebagai lembaga pelatihan batik dan juga sentra produksi batik. Pasalnya, usai pelatihan beberapa waktu lalu, telah terjalin kerjasama pemberdayaan peserta pelatihan. Kerjasama ini ditanda tangani langsung oleh Kadisnaker Kabupaten Malang.

“Kami kerjasama dengan tiga pengusaha batik. Salah satunya dengan Pak Wiyono ini. Polanya, pengusaha memberikan pekerjaan kepada peserta pelatihan agar mereka membatik. Alat dan bahan dari pengusaha, kemudian hasil membatiknya diserahkan kepada pengusaha. Sementara pembatik mendapatkan penghasilan dari kegiatan itu. Dengan begini, kami berharap bisa ikut mengentaskan pengangguran,” urai Lilik.

Sementara itu, penanggung jawab LPK Ganesha, Naila Chamidah menilai kunjungan peserta batik ke Probolinggo sangat bermanfaat bagi peserta pelatihan. Sehingga, para peserta bisa belajar secara langsung mengenai batik warna alam.

Chamidah mengusulkan supaya Disnaker, juga memberikan pelatihan batik dengan warna alam. Karena saat pelatihan beberapa waktu lalu, materi yang diberikan adalah batik dengan pewarnaan sintesis. “Selain itu peserta lebih bisa tahu style batik Trinil. Sehingga bisa luwes dalam mengerjakan pesanan batik dari Pak Wiyono,” paparnya.

Terpisah, Wiyono menjelaskan, batik warna alam memiliki warna yang lebih elegan. Selain tidak begitu cerah, dari sisi etniknya semakin muncul. Wiyono mengaku untuk mendapatkan warna coklat, ia biasa menggunakan kulit pohon mahoni sebagai pewarnaanya. Sedang untuk warna merah muda, memakai kayu secang. “Untuk warna biru kami memakai daun turi. Proses batik pewarnaan alam ini juga lebih lama. Semua bahan alami itu, kita rebus dulu selama empat hingga lima jam sampai airnya tinggal separuh,” ulas Wiyono.

“Misal saat merebus butuh 10 liter air, direbus hingga tinggal lima liter. Proses lainnya sama, pewarnaan alam digunakan saat pencelupan,” Wiyono menambahkan. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar