Ekbis

Destinasi Wisata di Kota Malang Harus Punya Merk

Malang (beritajatim.com) – Tidak memiliki potensi destinasi wisata alam bukan berarti pariwisata di suatu daerah tidak bisa berkembang. Berbagai kampung tematik sebagai tujuan wisata mulai bermunculan di Kota Malang belakangan perlu digenjot agar semakin banyak mendatangkan minat wisatawan baik lokal maupun manca negara.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Maulina Pia Wulandari Ph.D mengatakan bahwa tujuan wisata sebagai atraksi pariwisata harus dianggap sebagai sebuah produk pariwisata. Maka sebagai sebuah produk, tujuan wisata harus memiliki sebuah merek atau brand agar wisatawan mengenal obyek wisata tersebut.

Pia yang juga pakar di bidang Public Relations membagikan tips praktis kepada pengelola obyek wisata di Kota Malang agar tujuan wisata tersebut semakin dikenal masyarakat sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan ke obyek wisata.

“Ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan oleh para pengelola destinasi wisata untuk menciptakan brand awareness yaitu keunggulan produk, penerapan strategi komunikasi pemasaran yang terpadu, dan sarana dan prasarana pendukung operasional pariwisata,” kata Pia, Rabu, (19/6/2019).

Pia menjelaskan sebuah obyek wisata harus memiliki ciri khas yang unik dan spesifik. Tujuannya agar jangan sama dengan obyek wisata lainnya. Adapun wisata kampung tematik yang cukup tersohor di Kota Malang adalah Kampung Warna-warni, Kampung Tridi dan Kampung Arema.

“Diperkenalkan kepada masyarakat dengan strategi komunikasi pemasaran terpadu mulai iklan, publisitas, mengadakan event yang mengajak pengunjung merasakan dan memiliki pengalaman yang indah tentang obyek wisata yang dikunjungi, serta harus didukung oleh fasilitas pendukung yang baik pula. Buat event-event yang menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung, jadi mereka selalu mengingat pengalaman datang ke tempat wisata anda,” ujar Pia.

Menurutnya, pengelola wisata harus memiliki konsentrasi utama pada destinasi wisata dan infrastruktur penunjang pariwisata yang ada. Hal mendasar yang penting namun sering dilupakan pengelola wisata adalah pelayanan pelanggan yang berkualitas.

“Mulai dari tukang parkir, toilet, penjaga karcis, hingga pemandu wisata harus dapat memberikan pelayanan yang prima. Jangan sampai judes kepada pengunjung. Bagaimana cara menanggapi keluhan pelanggan juga harus dipahami oleh pengelola wisata,” papar Pia.

Selain itu menurut Pia, di era digital saat ini, pengelola wisata harus melek dan mengetahui trend seperti apa yang berkembang di masyarakat. Seperti mengajak content creator dan influencer di media sosial untuk mengunjungi destinasi wisata. “Dari situ ibarat getok tular yang bikin orang lain juga ingin ke tempat wisata anda,” tandasnya. (luc/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar