Ekbis

Belasan IRT di Kediri Produksi Sabun Antiseptik dari Bumbu Dapur

Kediri (beritajatim.com) – Belasan ibu rumah tangga di Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri berhasil menciptakan sabun antiseptik dari campuran bumbu dapur dan bunga tanaman. Produk rumah tangga tersebut memiliki khasiat untuk menghilangkan gatal dan bau keringat serta menghaluskan kulit.

Sabun cair dan batang antiseptic itu produk buatan para ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kube Sejahtera Desa Sambiresik. Sabun antiseptik ini diberi merk arwasik dari kata Aroma Wangi Sambiresik.

Ada tiga varian sabun berdasarkan aroma yang dihasilkan dari bahan serai wangi itu. Pertama, bumbu dapur itu dikombinasikan dengan bunga lavender, bunga kamboja dan aroma terapi.

Ide pembuatan sabun antiseptik ini, lahir setelah para ibu rumah tangga penerima program PKH mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Dinas Sosial setempat, Juli 2019 lalu. Pasca pelatihan tersebut, mereka kemudian mulai membuat sabun antiseptik dan langsung mendapat respon dari para konsumen.

Sabun antiseptik dari bahan serai wangi buatan para ibu rumah tangga ini memiliki banyak khasiat. Selain, mampu mengilangkan aroma biang keringat, menghaluskan kulit dan juga bisa mengobati gatal-gatal karena aleri, serta bekas jerawat.

“Kenapa kami memilih serai wangi, karena ada senyawa dalam kandunga tanaman ini,” kata Feni Sulistiani, Ketua Kube Sejahtera Desa Sambiresik, Kamis (9/1/2020).

Tidak sulit dalam buat produk sabun yang satu ini. Untuk sabun cair dibuat dari campuran ultra slash dan garam yoidum sebagai pengental. Dua bahan tersebut diaduk bersama minyak serai wangi alami dan aroma terapi.

Butuh waktu 30 menit setiap kali proses pembuatan sabun cair. Sedangkan sabun batang lebih lama yakni sekitar 1 jam. Sebab, pada pembuatan sabun batang, harus menunggu suhu campuran mencapai 30 derajat, agar bisa dituang dalam cetakan.

Meskipun terbilang sederhana, tetapi pembuatan sabun ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Sebab, takaran bahan harus tepat. Kegagalan produksi biasanya terjadi saat pencetakan bahan. Perajin menuangkan adonan sebelum suhu mencapai kisaran 30 derajat celsius.

“Bila suhunya terlalu panas atau terlalu dingin, sama – sama gatal. Jadi dalam pembuatan sabun batangannya benar-benar harus diperhatikan suhu dalam adonannya. Karena sekali tuang di cetakan, langsung mengeras. Produk yang gagal produksi, sudah tidak bisa didaur ulang,” tandasnya.

Pemberdayaan kaum perempuan penerima program pkh ini mendapat perhatian dari lembaga perbankan. Yayasan Baitul Mall (YBM) BRI Kediri-Malang memberikan bantuan peralatan produksi untuk meningkatkan usaha bersama masyarakat ini.

Sementara itu, dari pemerintah desa setempat berusaha untuk membantu proses pemasaran produk sabun dari warganya tersebut agar semakin berkembang.

“Desa sangat mendukung usaha ini. Kami membantu dalam proses pemasaran produk UMKM warga ini supaya berkembang pesat,” kata Mohammad Anwar Zaenudin, Kepala Desa Sambiresik.

Ada 16 orang ibu rumah tangga yang terlibat dalam usaha pembuatan sabun antiseptik ini. Dalam setiap kali produksi mampu menghasilkan 10 botol sabun cair dan 66 buah sabun batang.

Produk rumah tangga ini masih dipasarkan pada lingkungan anggota penerima PKH dan kelompok arisan setempat. Adapun harga yang dibandrol untuk sabun cair senilai Rp 25 ribu per botol dan sabun batang Rp 10 ribu tiap satu buah ukuran 70 gram.

Mereka berharap pemerintah memfasilitasi proses perizinan usaha dan membantu memasarkan produk tersebut. [nm/ted].

Apa Reaksi Anda?

Komentar