Ekbis

Batik Khas Desa Angsanah Dilaunching, Ini Tujuannya

Pamekasan (beritajatim.com) – Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan, mendeklarasikan batik Khas Angsanah yang mengambil tema dan desain berdasar sejarah dan literatur desa setempat, Sabtu (3/8/2019).

Deklarasi tersebut dikemas dalam kegiatan Launching Batik Khas Angsanah, sekaligus Peresmian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Daerah (DPMD) Pamekasan, dilaksanakan di Kantor Balai Desa Angsanah, Palengaan.

Gagasan tersebut merupakan salah satu hasil kajian dari mahasiswa Perkuliahan Kerja Nyata (PKN) XXIV Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, yang tengah menjalankan program Mahasiswa Mengabdi sejak Kamis (4/7/2019).

 

Salah satu jenis batik khas Angsanah, yang dipamerkan dalam program Launching Batik.

“Pertama-tama perlu kami sampaikan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang telah membantu maksimal untuk menggali potensi desa kami dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini perlu kami apresiasi setinggi-tingginya atas ide dan gagasan yang dituangkan demi memajukan desa kita tercinta,” kata Kepala Desa (Kades) Angsahah, Mohammad Masduki.

Bersamaan dengan momentum tersebut, pihaknya juga langsung menyambut baik ide dan gagasan mahasiswa melalui deklarasi batik khas desa yang dipimpinnya. “Karena bagaimanapun, ide dan gagasan ini sangat penting untuk kita kembangkan di masa-masa yang akan datang,” ungkapnya.

“Tidak kalah penting, gagasan ini bisa kita jadikan sebagai acuan persiapan desa kami menyongsong program desa tematik yang dicanangkan pemerintah kabupaten (pemkab) Pamekasan. Apalagi saat ini juga ada perwakilan dari DPMD Pamekasan yang hadir dalam kegiatan ini,” jelasnya.

Dari itu pihaknya berharap launching tersebut nantinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Angsanah, khususnya dalam sektor batik. “Tentunya kami berharap, hal ini bisa menjadi awal demi kesejahteraan masyarakat di desa kami (Angsanah),” harapnya.

Seperti diketahui, selama ini Desa Angsanah, Palengaan, Pamekasan, selalu identik dengan sebutan Desa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Pamekasan.

Namun selain lokasi TPA Sampah, desa tersebut dinilai tidak memiliki potensi lain yang dapat mendombleng kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor perekonomian masyarakat. Padahal terdapat potensi lain yang semestinya menjadi branding mempuni dari sekedar ‘lokasi pembuangan sampah’.

Di antara beberapa potensi mempuni tersebut, salah satunya dari sektor batik tulis. Apalagi sebagian besar masyarakat juga banyak yang mengadu peruntungan melalui sektor batik, yakni sebagai perajin yang ironisnya justru ‘dimanfaatkan’ oleh desa sekitar.

Kondisi tersebut justru membuat Desa Angsanah, semakin terbenam dan jauh tertinggal dibandingkan desa lain yang mengandalkan perekonomian melalui sektor batik. Seperti Desa Klampar, yang terkenal dengan produksi batik. Justru sebagian di antaranya justru berasal dari para perajin asal Desa Angsanah. [pin/suf] 

Apa Reaksi Anda?

Komentar