Ekbis

Baru 13,5 Persen Petani Indonesia Gunakan Pupuk Organik

Gresik (beritajatim.com) – Petani Indonesia masih minim mengggunakan pupuk organik. Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) baru 13,5 persen yang menggunakan pupuk tersebut. Selebihnya, petani masih sangat bergantung pada pupuk anorganik.

Manager Humas PT Petrokimia Gresik (PG) Muhammad Ihwan mengatakan, PG mendukung langkah perbaharuan peraturan menteri pertanian (Permentan) nomor 70 tahun 2011 menjadi Permentan nomor 01 tahun 2019 tentang Pendaftaran Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah.

“Ini merupakan sebuah langkah strategis yang patut kita dukung bersama dalam hal peningkatan kualitas pupuk organik serta menggugah kembali kesadaran petani untuk meningkatkan pengunaan pupuk organik demi keberlanjutan pertanian dalam jangka panjang,” katanya, Jumat (15/03/2019).

Adanya perbaharuan Permentan nomor 01 tahun 2019. Kesadaran petani sudah mulai besar, namun masih perlu terus ditingkatkan lagi.

Ihwan menambahkan, pupuk organik Petroganik telah mendapat kepercayaan pemerintah sejak tahun 2008 sebagai pupuk bersubsidi. Hal ini berkat proses produksi dan kualitas yang terjaga dan memenuhi standar pemerintah. Untuk itu, terkait adanya perbaharuan Permentan tersebut. PG siap menyesuaikan pupuk Petroganik dengan spek teknis terbaru yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Seperti diketahui pupuk Petroganik telah dikembangkan sejak tahun 2004, sebagai respon atas hasil penelitian pusat tanah dan agroklimat Bogor (2003) yang menyebutkan bahwa sebagian besar tanah pertanian di Indonesia mengandung kadar C-organik dibawah 2 persen. Sementara tanah yang sehat minimal mengandung kadar C-organik sebesar 5 persen,” tambahnya.

Selama ini lanjut dia, penggunaan pupuk anorganik bisa lebih efisien. Penggunaan pupuk organik juga merupakan upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Untuk itulah, pihaknya sangat merekomendasikan pemupukan berimbang, yaitu kombinasi antara penggunaan pupuk organik dan anorganik

“Pupuk organik berfungsi untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah, sedangkan pupuk anorganik untuk memenuhi unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Jadi kedua jenis pupuk ini saling melengkapi,” ungkapnya.

Adapun peran PG dalam mempromosikan pupuk organik adalah melalui kampanye pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kilogram pupuk organik Petroganik, 300 kilogram pupuk NPK Phonska, dan 200 kilogram
pupuk Urea untuk setiap satu hektar lahan sawah.

Pemupukan itu juga dilakukan pada tahun lalu. Dimana, PG telah melakukan 448 demonstration plot (demplot) berbagai komoditas pangan dan 1.000 lebih kegiatan sosialisasi di seluruh Indonesia.

“Kami telah menguji efektifitas pola pemupukan berimbang ke berbagai daerah selama kurang lebih 10 tahun terakhir dan terbukti mampu meningkatkan produktivtas tanaman. Untuk padi peningkatan produktivitasnya mencapai 1-2 ton per hektar,” pungkasnya. [dny/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar