Ekbis

Anjloknya Harga Cabai Sumbang Angka Deflasi Sumenep

Cabai menjadi komoditas penyumbang terbesar deflasi

Sumenep (beritajatim.com) – Pada September 2019, Sumenep mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Demikian juga untuk Jawa Timur dan Nasional, juga mengalami deflasi. Untuk Jawa Timur, angka deflasi 0,07 persen, dan deflasi nasional 0,27 persen.

“Untuk bulan September, dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur, semuanya mengalami deflasi. Angka deflasi tertinggi ada di Jember, yakni 0,29 persen, kedua Kediri 0,27 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Sumenep, Syaiful Rahman, Kamis (10/10/2019).

Ia menjelaskan, dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami inflasi, satu kelompok mengalami deflasi, dan satu kelompok relatif stabil.

Kelompok sandang mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,34 persen, diikuti kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,75 persen. Kemudian kelompok kesehatan 0,18 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,03 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi 1,18 persen.

“Walaupun yang mengalami deflasi hanya satu kelompok, tetapi karena kelompok makanan, maka pengaruhnya menjadi cukup besar terhadap IHK. Akhirnya yang muncul terbesar adalah angka deflasi, bukan inflasi,” terang Syaiful.

Ia mengungkapkan, komoditas utama yang memberikan andil besar terhadap deflasi adalah cabai merah, bawang merah, dan daging ayam ras. Sedangkan yang memberikan andil terbesar inflasi adalah emas perhiasan, bayam, dan cumi-cumi.

“Jadi untuk komoditas cabai ini harganya memang anjlok. Bulan lalu harganya melonjak tajam, bulan berikutnya anjlok. Ini yang menyebabkan sumbangan terbesar angka deflasi,” paparnya. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar