Ekbis

ABB Pamer Teknologi Robotic Untuk Mamin

Foto (ki-ka): Bpk. Mugi Harfianza, Head of Robotics & Discrete Automation ABB Indonesia; Mr. Michel Burtin, Presiden Direktur ABB Indonesia; Bpk. Sony Sulaksono, Kepala Pusat Penelitian & Pengembangan IKFLMATE Kemenperin; Chen Kang Tan, Head of Motor & Generator ABB Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) – ABB Indonesia, mencatat  60 persen industri olahan mamin yang memanfaatkan robotic untuk proses produksinya. Dan 50 persen perusahaan Mamin itu ada di Jatim. Hal ini juga yang membuat ABB Indonesia terus mengembangkan dan memasarkan teknologi robotik terbaru mereka di Jatim.

Hal ini diungkapkan oleh Mugi Harfianza, Head of Robotic & Discrete Automation ABB Indonesia, disela kegiatan pameran Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementrian Perindustrian di Surabaya, Selasa (17/9/2019).

“Era teknologi industri 4.0 mendorong industri memanfaatkan robotic hampir semua produk industri menggunakannya. Tetapi di Tanah Air yang paling banyak menggunakan teknologi robotik ya industri  olahan Mamin,” jelas Mugi.

Hal ini juga yang membuat ABB Indonesia terus mengenalkan teknologi robotik terbaru mereka untuk klien mereka seperti  PT Indolakto, Bogasari dan Nestle.

Diakui serapan robotic di industri mamin, mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Namun Mugi tidak memiliki angka pasti.
Sementara itu, penggunaan robotic di industri Indonesia di tahun 2017 ke tahun 2018 tumbuh sekitar 20 persen. Diprediksi tahun 2019 juga akan tumbuh sekitar 20 persen untuk semua sektor industri.

Di tahun 2018 lalu, robot di industri dalam negeri mencapai 1.200 unit. Sementara di tahun 2017 yang hanya 950 unit robot.

“Dengan tren pertumbuhan itu, mudah-mudahan implementasi robot bisa dimulai sekaligus ini bekal kami mendukung roadmap pemerintah dalam ‘Making Indonesia 4.0,” tambah Mugi
Saat ini masih banyak faktor yang perlu mendapat perhatian terkait implementasi robot oleh industri. Seperti infrastruktur industri terkait kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengoperasikan teknologi robot serta proses standarisasi di industri tersebut.Beberapa industri masih menghadapi masalah terkait proses standarisasi dalam mengimplementasikan robot.

 

“Fungsi robot adalah repetisi pekerjaan yang sudah diajarkan di awal, artinya kalau misalnya ada proses standarisasi yang masih bermasalah maka potensinya adalah proses poduksi juga bermasalah,” ungkap Mugi.

Selain itu, penerapan robot di industri juga terkait persepsi biaya atas penerapan robot yang sebetulnya sangat bergantung pada nilai dari kastemer terhadap penerapan robot itu.
“Mau dibilang murah juga nggak, mau dibilang mahal juga sangat relatif. Hal itu tergantung output value dari produksi yang diinginkan,” tambah Mugi.

Presiden Direktur ABB Indonesia, Michel Burtin, menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung roadmap Pemerintah dalam ‘Making Indonesia 4.0’, dengan menghadirkan serangkaian teknologi digital lintas industri berupa solusi smart sensor, digital power train serta robot YuMI.

“Kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital ekonomi Indonesia. Baik itu mengenai efisiensi energi, manufaktur maju atau infrastruktur perkotaan, ABB memiliki produk, solusi, dan penawaran layanan yang luas untuk melengkapi peta jalan Indonesia di masa depan dalam revolusi industri keempat,“ ungkap Michel.

Dari hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi daiam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78 persen. Di atas Indonesia terdapat Vietnam sebesar 79 persen.
Sedangkan di bawah Indonesia ditempati Thailand sekitar 72 persen, Singapura 53 persen, Filipina 52 persen dan Malaysia 38 persen. Riset McKinsey juga menunjukkan, industri 4.0 akan berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Misalnya, digitalisasi bakal mendorong pertambahan 150 miliar dolar AS atas hasil ekonomi Indonesia pada 2025. [rea]

 

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar