Ekbis

2020 Pemerintah Naikkan Cukai Rokok, Pengusaha Rokok Terancam Gulung Tikar

Ketua Gapero Surabaya, Sulami Bahar (paling kanan) bersama Johny SH, Ketua Gapero Malang (tengah) saat bertemu wartawan di Surabaya
Surabaya (beritajatim.com) – Tahun 2020 mendatang pemerintah Indonesia akan menaikkan cukai rokok hingga 23 persen. Kenaikan ini dinilai oleh Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya dan GAPERO MalangĀ  sebagai kezaliman.
Gapero meminta agar pemerintah mengkaji ulang kenaikan itu karena akan membuat perusahaan rokok gulung tikar dan akan banyak kasus PHK massal di Indonesia. Gapero yang memiliki anggota dari berbagai perusahaan rokokĀ  Golongan I, Golongan II/menengah dan Golongan III atau kecil dengan jumlah pabrik sekitar 454 unit.
Menurut Sulami Bahar, Ketua Gapero Surabaya, Industri Hulu Tembakau (IHT) merupakan industri yang strategis, memberikan kontribusi terbesar bagi pendapatan Negara sebesar 10% dan APBN atau sebesar Rp 200 Triliun dalam bentuk cukai, Pajak Rokok daerah, dan PPN. IHT juga menyerap 7,1 juta jiwa yang meliputi petani, buruh, pedagang eceran, dan industri yang terkait.
“Pertanyaannya, kalau mau mematikan industri ini apakah sudah ada penggantinya? Apakah benar jika pabrik rokok dalam negeri tidak beroperasi maka kesehatan masyarakat dan polusi udara Iebih baik secara signifikan?,” ungkap Sulami geram, saat bertemu wartawan Kamis (19/9/2019).
Dikatakan, selama ini, pemerintah menaikkan cukai rata-ratanya sekitar 10%, namun ditahun 2020 pemerintah menaikkan rata-rata cukai 23% dan HJE 35% yang akan berdampak negatif untuk industri. Saat ini, kondisi usaha IHT masih mengalami tren negatif yakni turun 1-3% dalam tiga tahun terakhir, data AC Nielsen, menunjukkan produksi semester I tahun 2019 turun 8,6% yoy.
“Ini akan membuat ekosistem pasar rokok terganggu. Belum lagi penyerapan tembakau dan cengkeh akan menurun sampai 30%. Kalau terus naik begini pabrik banyak yang tutup dan akan terjadi rasionalisasi karyawan di pabrik. Harga rokok akan makin mahal dan akan banyak masyarakat yang lari pada rokok ilegal,” beber Sulami.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Johny SH, Ketua Gapero Malang, yang kecewa karena rencana kenaikan besaran cukai dan HJE yang sangat tinggi tersebut tidak pernah dikomunikasikan dengan pabrikan. Seharusnya kenaikan cukai hanya 10 persen saja sebab target penerimaan cukai dalam RAPBN 2020, naik sebesar 9,5% (Rp 173 T) sedangkan usulan Gapero maksimal sebesar angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
“Kami minta pemerintah mempertimbangkan, karena kami adalah industri strategis Indonesia,” tandasnya.[rea/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar