Ekbis

Produksi Rokok Nasional Turun 4,5 persen,

2019 Pemerintah Tak Naikkan Tarif Cukai Rokok

Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah pada tahun 2019 ini tak menaikan tarif cukai rokok lantaran produksi rokok nasional pada tahun 2018 lalu mengalami penurunan sebesar 4,5 persen.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian RI (Mendag RI), Airlangga Hartarto saat dialog dengan karyawan Mitra Produksi Sigaret dan Paguyuban Sampoerna Retail Community PT HM Sampoerna Tbk.

“Sesuai data dari Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, komposisi pangsa produksi rokok pada tahun 2018 yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 20 persen, Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 5 persen dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 75 persen,” ungkapnya, di hadapan 1.200 karyawan pabrik rokok PT Ittihad Rahmat Utama, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (17/3/2019).

Masih kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (DPP Partai Golkar) ini, kinerja Industri Hasil Tembakau (IHT) tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 mengalami tantangan yang cukup berat dan terus mengalami penurunan produksi. Produksi rokok nasional pada tahun 2018 sebesar 332,4 milyar batang mengalami penurunan 4,5 persen dibanding produksi tahun 2015 sebesar 348,1 milyar batang.

“Untuk itu, pemerintah memutuskan tidak ada kenaikan tarif cukai pada tahun 2019. Meskipun tantangan yang dihadapi cukup berat, akan tetapi IHT masih mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional. Industri rokok merupakan kearifan lokal yang mampu bersaing dan bertahan menjadi industri dalam negeri yang memberikan kontribusi nyata,” katanya.

Yakni melalui penyerapan bahan baku lokal hasil perkebunan berupa tembakau dan cengkeh, penyerapan tenaga kerja dan kontribusi kepada pendapatan negara melalui cukai. Pada tahun 2018, penerimaan cukai naik menjadi Rp153 triliyun (95,8 persen dari cukai total nasional) dibanding penerimaan cukai tahun 2017 sebesar Rp147 triliyun.

“Selain itu, produk IHT juga menyumbang penerimaan devisa melaui ekspor produk IHT utamanya rokok dan cerutu. Pada tahun 2018 nilai ekspor rokok dan cerutu mencapai U$D 931,6  juta, meningkat 2,98 persen dibanding ekspor tahun 2017 sebesar U$D 904,7 juta. Paguyuban Mitra Produksi Sigaret
merupakan wadah yang terdiri dari 38 perusahaan produsen Sigaret Kretek Tangan,” jelasnya.

Saat ini, tegas Mendag RI, produsen Sigaret Kretek Tangan (SKT) bermitra dengan PT HM Sampoerna di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Produksinya telah mencapai 15 milyar batang per tahun dengan mempekerjakan karyawan kurang lebih 40.000 orang tenaga kerja. MPS tidak menutup kemungkinan untuk bermitra dengan perusahaan lain, walaupun saat ini baru bermitra dengan PT HM Sampoerna.

“Selain itu, program kemitraan antara PT HM Sampoerna dengan Sampoerna Retail Community sebagai wadah UKM retail yang telah dibentuk di 34 provinsi, 408 Kabupaten/Kota dan melibatkan lebih dari 60.000 mitra dagang merupakan contoh program pemberdayaan UKM khususnya peretail tradisional di tingkat nasional,” tuturnya.

Program tersebut, menunjukan kepedulian Sampoerna kepada UKM untuk dapat berkembang bersama-sama melalui peningkatan kapasitas dan menciptakan ekosistem komersial yang inklusif yang pada akhirnya mewujudkan kemandirian perekonomian baik di daerah maupun di tingkat nasional.

Sementara itu, Direktur PT Sampeorna Tbk, Elvira Lianita menjelaskan, karyawan yang tergabung di PT Sampoerna Tbk di seluruh Indonesia mencapai 49 ribu orang. “Kami juga mohon dukungan Bapak Menteri agar industri kami tetap berlangsung sehingga dapat berkiprah membangun negeri demi kesejahteraan rakyat,” harapnya.

Masih kata Elvira, PT Sampoerna Tbk dari segi cukai sudah memberikan kontribusi sebesar Rp70 triliun dari Rp160 triliun sebagai pendapatan negara. Hal tersebut merupakan hal yang baik guna kelangsungan perekonomian menuju masyarakat yang sejahtera dimana ikut berperang serta menggerakkan perekonomian didaerah dan Indonesia khususnya.

Usai dialog, Menteri Perindustrian RI beserta rombongan melakukan peninjauan lokasi Boots MPS dan SRC produksi rokok PT Ittihad Rahmat Utama. Dalam rombongan tampak, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil, Achmad Sigit Dwiwahjono, staf khusus Kemenperin RI, Rizal Mallaranggeng.

Direktur Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Abdul Rochim dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kemenperin Ngakan Timur Antara, Adc Ismail Solong. Hadir juga Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Mojokerto, Herry Suwito.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar