|
Alamak! Korban Guru Cabul Lebih Senang Diraba
Kamis, 12 November 2009 18:31:51 WIB
Reporter :
Abdul Qohar
Tuban (beritajatim.com) - Benar-benar kasihan siswa yang menjadi korban dugaan pencabulan oleh oknum guru salah satu SDN di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.
Informasi yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Kamis (12/11/2009) menyebutkan, kalau sejauh ini kondisi psikologi korban oknum guru bernama Ruslan (56) warga Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Tuban, masih dalam pengawasan ekstra ketat lembaga pendamping.
Dari 12 siswa yang menjadi korban dan saat ini didampingi oleh Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, kebanyakan mempunyai trauma yang berbeda-beda.
Namun yang cukup mengkhawatirkan adalah trauma siswa SDN yang menjadi korban pelaku, mereka sekarang ini lebih senang diraba bagian tubuhnya yang vital, daripada disuruh menghafal atau mengerjakan tugas.
"Enak dipegang di dada, dari pada disuruh membuat tugas. Sebab, lebih cepat dan enak," kata Direktur KPR, Nunuk Fauziyah menirukan salah seorang korban yang sempat ditanyainya.
Kata-kata anak yang masih sangat lugu itu membuat banyak hati terenyuh dan mengutuk kebejatan oknum guru kelas III itu. Sebab, rata-rata korban masih berumur 8 sampai 9 tahun. "Kebanyakan korban yang kami tangani kelas 4, dan ada juga kelas 3," terangnya.
Nunuk menerangkan, rata-rata kondisi anak yang menjadi korban sama. Sebab, trauma seperti itu lebih membahayakan dan pihaknya saat ini terus menerus berkonsultasi dengan psikolog.
"Jangan sampai kondisi anak yang seperti itu terus berlarut-larut. Sehingga, anak-anak bisa memulai hidup baru yang lebih baik," sambungnya.
Selain kondisi korban yang mengkhawatirkan, Nunuk juga tak lupa mengingatkan kepada orang tua korban agar terus mengawasi anaknya. Khususnya mengenai pola berpakaian.
"Sebab, ada diantara korban yang masih kecil, tetapi bentuk tubuhnya sudah mulai tumbuh, cara pakaiannya sudah seperti orang dewasa," tegasnya.
Sehingga, dengan begitu anak mendapat perhatian lebih. Tidak hanya itu saja, pergaulan anak dan pelajaran saat di sekolah juga terus menerus dipantau.
"Jangan sampai orang tua beranggapan, kalau telah memberikan uang saku lebih kepada anaknya saat berangkat sekolah telah cukup," lanjut Nunuk.[dul/ted] |