Rabu, 22 Nopember 2017

Operasi Semut Ala PHE WMO

Rabu, 25 Oktober 2017 16:28:18 WIB
Reporter : Renni Susilawati
Operasi Semut Ala PHE WMO

Bangkalan (beritajatim.com) – Sukses meraih Proper Emas di tahun 2016 lalu, Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) bersama masyarakat masih terus berjuang mempertahankan penghargaan bergensi itu agar tetap diterima Jawa Timur.

Salah satu upayanya dengan melakukan operasi Semut (semangat memungut) oleh manajemen PHE WMO bersama warga sekitar. Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan penyuluhan konservasi hutan mangrove yang ada di Taman Pendidikan Mangrove, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan, Selasa (24/10/2017).

Keberadaan hutan mangrove bukan sekadar menjadi penahan abrasi pantai, penahan gelombang tsunami, dan intrusi air laut, tetapi juga memiliki fungsi ekologi. Yakni, sebagai tempat mencari makan, tempat beranak pinak dan pengasuhan binatang dan pertukaran nutrisi.

“Secara keseluruhan, pengelolaan area konservasi mangrove di Labuhan ini sudah sangat bagus. Tapi, kegiatan kampanye agar kita semua tetap menjaga kelestarian hutan mangrove ini perlu terus digalakkan. Salah satunya, mengingatkan bahaya sampah pagi pohon mangrove,” kata General Manager PHE WMO Kuncoro Kukuh.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim Dr. Ir. Diah  Susilowati beserta jajarannya serta para aktivis Kelompok Tani Mangrove Cemara Laut Sejahtera dan dimeriahkan kehadiran 65 siswa SD di sekitar wilayah Labuhan.

Setelah dibagi dalam sepuluh kelompok, seluruh peserta menuju ke bibir pantai untuk memunguti sampah yang ada di pinggir pantai atau tersangkut di pohon bakau. Masing-masing kelompok berlomba mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya. Kegiatan yang diberi nama Operasi Semut ini, dimaksudkan untuk mengingatkan kembali arti penting melestarikan area konservasi mangrove.

“Lebih dari itu, juga sudah terbukti, pelestarian hutan mangrove telah menunjang perekonomian masyarakat di area ini. Karena itu, pada tahun 2017, PHE WMO memperluas wilayah binaan di sekitar TPM Labuhan. Ini penting agar manfaat ekologi dan ekonomi bisa dinikmati secara lebih luas,” katanya.

Mangrove in Office (MIO)

Setelah melakukan Operasi Semut, warga dan pelajar mengikuti kegiatan sosialisasi dan penyuluhan konservasi hutan mangrove juga diajari cara penanaman mangrove, termasuk menanam mangrove dengan menggunakan botol bekas.

Kegiatan menanam mangrove di dalam botol itu merupakan pengembangan kegiatan Mangrove in Office (MIO) yang dilakukan karyawan PHE WMO. Selain untuk menumbuhkan rasa cinta pada mangrove, MIO merupakan apresiasi karyawan PHE WMO pada Kelompok Tani  Mangrove Cemara Sejahtera yang mendukung program PHE WMO mengembangkan Taman Pendidkan Mangrove sejak 2013 lalu.

“Pembuatan MIO ini telah dipatenkan, semoga bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat,” jelas Kukuh.

Dari pengamatan lapangan, hutan bakau yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrorve (BPHM) Wilayah I Bali itu kini menjadi salah satu destinasi wisaya di pesisir utara pulau Madura.

Pada hari Sabtu dan Minggu ratusan pengunjung dari berbagai daerah, berdatangan menikmati kesejukan hutan mangrove seluas 3,5 hektare. Ada 17 jenis mangrove di area ini, antara lain, Sonneratia Alba (Prapat), Rizhophora Stylosa, Stenggi, Rhizopora Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, dan Avicenna Marina.

Di lokasi ini pengunjung juga bisa meniokmati kicauan burung Rhipidura Javanica, Passer Montanus, Gerigone Sulphurea, dan Prinia SP. Hutan mangrove yang terjaga ini juga dihuni burung migran seperti Gajahan Pengala (Whimbrel Numenius/Phaeopus), Cerek (Plover, Charadrius SP), dan Trinil Kaki Merah (Common Redshank/Tringa Totanus).

Seiring dengan perkembangan ekosistem, kini hutan mangrove ini juga mulai didatangi gerombolan kera dari Desa Lembung Pesisir, Kecamatan Sepulu. Menurut pengamat mangrove, Agus Satriyono, kehadiran satwa liar seperti kera, elang, dan aneka burung migran di kawasan mangrove menjadi indikasi keberhasilan sebuah upaya konservasi lahan pesisir.

“Ini bukti keberhasilan PHE WMO mengembangkan kawasan pesisihan di Labuhan menjadi kawasan konservasi, sekaligus menjadi bukti adanya dukungan luas dari masuarakat yang tergabung dalam kelompok tani ," ungkap alumnus Fakultas MIPA Jurusan Biologi ITS Surabaya itu.

Lokasi TMP yang setiap hari dibuka untuk umum mulai 07.00 hingga 17.00. kini juga menjadi lokasi penelitian. Sejak 2015, tercatat sebanyak 13 kampus di Pulau Jawa melakukan penelitian. [rea/but]

Tag : phe wmo

Komentar

?>