Jum'at, 20 Oktober 2017

Potensi Migas di Jombang Cukup Besar

Rabu, 27 September 2017 18:53:08 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Potensi Migas di Jombang Cukup Besar

Jombang (beritajatim.com) - Sekitar 500 mahasiswa Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy) dan santri Pesantren Tebuireng Jombang antusias mengikuti Kuliah Umum Industri Hulu Migas, Rabu (27/9/2017).

Kegiatan yang digelar oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) itu dimaksudkan untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang industri hulu migas kepada kalangan mahasiswa dan santri.

Dalam sambutannya, Rektor Unhasy Tebuireng KH. Salahuddin Wahid mengungkapkan, kuliah umum tersebut merupakan forum kedua mengenai pengenalan industri migas bagi universitas yang dipimpinnya.

"Yang pertama, sekitar 5-6 tahun lalu, kita didatangi Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, yang ditindaklanjuti dengan pengiriman sejumlah mahasiswa untuk mengikuti kursus pengelasan di bawah laut," ujar Gus Sholah.

Cucu KH. Hasyim Asy'ari itu berharap, forum tersebut dapat memberikan informasi dan pencerahan bagi kalangan kampus dan santri untuk lebih mengenal industri migas. Gus Sholah juga berharap forum tersebut akan ada tindak lanjutnya. "Mudah-mudahan juga ada dari Anda yang kemudian nyantol di industri migas," harap Gus Sholah.

Antusiasme peserta, antara lain tampak dari berbagai pertanyaan kritis yang dilontarkan dalam sesi diskusi. Nur Istiqomah (20), mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, misalnya, menanyakan apa faktor penyebab kenaikan harga minyak dan gas, padahal Indonesia dikenal kaya sumberdaya alam. Penanya lain dari Fakultas Teknik, Fatimah (22), menanyakan adakah potensi migas juga terdapat di Kabupaten Jombang.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jatim Handoko Teguh Wibowo mengungkapkan, Kabupaten Jombang sebenarnya memiliki potensi migas yang relatif besar. "Salah satu indikasinya, di sekitar wilayah PT. Kimia Farma di Watudakon, terdapat indikasi kuat adanya potensi gas. PT. Lapindo Brantas sebagai pemilik wilayah kerja juga sudah melakukan beberapa studi yang cukup mendalam," ungkap Handoko.

Sayangnya, menurut Handoko, sejak kasus Lumpur Sidoarjo, industri ekstraksi migas cenderung lesu dan kurang bergairah. "Resistensi dan trauma masyarakat terhadap industri migas seringkali dikaitkan dengan kasus semburan lumpur panas tersebut," ujar dosen salah satu kampus swasta di Surabaya itu.

Selain trauma dan resistensi, ada juga faktor regulasi, sosial, politik dan lingkungan. "Di sinilah peran kampus sebagai agen perubahan menjadi penting untuk mendorong kemajuan industri migas dalam konteks pembangunan berkelanjutan," tandasnya.

Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) Ali Masyhar menuturkan, kuliah umum tersebut dimaksudkan untuk mensosialisasikan kegiatan industri hulu migas kepada kalangan mahasiswa dan santri. Termasuk kondisi cadangan migas terkini dan pengelolaannya. "Kami merasa perlu melakukan sosialisasi ini, karena tidak ada kegiatan apapun di Indonesia yang terlepas dari kehidupan kampus dan generasi muda," kata pria yang akrab disapa Gus Ali ini, saat ditemui wartawan di sela kuliah umum.

Kegiatan kuliah umum di Tebuireng, menurut pria kelahiran Demak itu, merupakan bagian dari rangkaian kuliah umum yang digelar di berbagai kampus daerah yang memiliki potensi migas. "Untuk Jatim, faktor santri dan nahdliyin sangat penting. Karena itu, kami merasa perlu memberikan informasi tentang industri migas di kalangan santri. Dan, Tebuireng merupakan ikon pesantren. Bukan hanya di Jatim, tapi juga secara nasional," pungkasnya. [suf/ted]

Tag : migas

Komentar

?>