Rabu, 29 Maret 2017

Bor Lapangan Terintegrasi, PHE WMO TargetkanTambahan Produksi

Rabu, 04 Januari 2017 17:02:08 WIB
Reporter : Renni Susilawati
Surabaya (beritajatim.com) - Di tengah-tengah gejolak harga minyak dunia yang terjadi sejak akhir 2014, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) tetap menunjukkan komitmennya untuk mendukung kedaulatan energi nasional melalui program pemboran beberapa sumur pengembangan dan eksplorasi. Pemboran sumur pertama dari Platform PHE 12, sumur PHE 12-A1  tajak (spud in) pada  tanggal  23 Desember 2016 dengan menggunakan Rig Jack Up Ensco 67.
“Pengeboran sumur PHE 12-A1 ini mengawali  fase produksi di POD Integrasi serta menjadi awal beroperasinya kembali pemboran di Blok WMO setelah hampir 2 tahun terhenti sebagai dampak jatuhnya harga minyak hingga ke level AS$ 40/barel. Meski cuaca kurang bersahabat, hingga kini kegiatan tajak berjalan lancar,” kata President DirectorPT Pertamina Hulu Energi (PHE) R. Gunung Sardjono Hadi kepada wartawan,   Sabtu (31/12/2016).
Gunung Sardjono menambahkan, program pemboran akan dilanjutkan di anjungan yang sama pada sumur PHE 12-A3 dan PHE 12-A2. Rig dijadwalkan akan berpindah ke anjungan PHE 24 dan dilanjutkan ke sumur eksplorasi PHE N-7-1 sebagai sumur terakhir pada program 2016 - 2017 ini.
“PHE WMO akan menggunakan lumpur pemboran yang ramah lingkungan atau dalam hal ini Water Based Mud System. Perkiraan biaya pemboran sebesar AS$ 19.528.966 dengan estimasi waktu penyelesaian sekitar 60 hari,” tambah Gunung.
Di temui di lokasi pengeboran, General Manager PHE WMO, Sri Budiyani menambahkan,  sumur PHE 12-A1 ditargetkan mencapai lapisan geologi Kujung dan Ngimbang. Untuk bisa mencapai target lapisan Kunjung dan Ngimbang, lanjut Sri Budiyani, pengeboran ini  menggunakan casing program berukuran 30" x 20 x 16" x 13-3/8" x 9-5/8" x 7".
“Sumur ini merupakan sumur berarah(directional drilling) yang akan mencapai inklinasi maksimal sebesar 53 derajat pada kedalaman terakhir (TD/Total Depth) 10.235 kaki Measured Depth/8.081 kakiTrue Vertical Depth,” katanya.
Dari pengeboran sumur PHE 12-A1 diharapkan bisa menghasilkan  produksi awal yang mencapai 1.500 BOPD. Sementara sumur pengeboran PHE 12-A3 dengan produksi awal minyak ditarget sebesar 1.000 BOPD dan sumur PHE 12-A2 dengan target produksi awal minyak sebesar 1.000 BOPD.
“Sesuai terget SKK Migas, pada bulan Februari 2017 lapangan teriuntegrasi EPC-1 diharapkan bisa memproduksi 1.500 barel minyak per hari, lantas meningkat hingga 3.100 barel minyak per hari pada Agustus 2017. Tambahan produksi sekitar 3.100 barel per hari ini sangat penting untuk menstabilkan produksi Blok WMO yang rata-rata penurunan alamiahnya mencapai 50% - 60 % per tahun,” katanya.
Ditambahkan, dalam dua tahun terakhir ini, PHE WMO berupaya mengatasi tekanan penurunan produksi alamiah yang sangat tinggi lewat kegiatan optimasi pada sumur-sumur yang ada.
“Meski tanpa pengeboran sumur baru, tetapi produksi pada tahun 2016 masih bisa diatas target yang diberikan pemerintah melalui SKK Migas, sekitar 103% dari target. Tapi setelah nyaris 2 tahun hanya melakukan optimasi,  kini PHE WMO mulai melakukan pengeboran sumur baru,” jelasnya.
PHE WMO sebagai Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang bekerja di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas ini juga berharap  bisa menambah produksi gas dari pengeboran tiga sumur baru ini. “ Tambahan produksi gas dari tiga sumur itu masing masing sekitar 650 mscfd, 655 Mscfd dan 412 mscfd.
Ditambahkan, pembangunan anjungan PHE -12 ini merupakan bagian dari tahap pertama proyek pengembangan lapangan terintegrasi terbatas (EPCI-1). Pembangunan anjungan PHE-12, berbarengan dengan  instalasi anjungan lepas pantai PHE-24 yang juga sudah terpasang di  60 mil lepas pantai Madura. Dua  fasilitas produksi tersebut ditambatkan sekitar 55-70 meter di atas permukaan laut.
Fasilitas produksi migas lapangan terintegrasi ini juga  dilengkapi dengan Central Processing Platform 2 (CPP2) yang dibangun PT Gunanusa Utama Fabricators di Cilegon. Ketiga fasilitas itu dikoneksikan dengan pipa bawah laut dengan panjang sekitar 19,5 km, untuk menyalurkan produksi minyak dan gas bumi dari lapangan PHE-12 dan PHE-24 (terintegrasi).
Dipaparkan, sesuai arahan SKK Migas pada program pemboran kali ini, Tim Drilling PHE WMO akan  melakukan terobosan-terobosan untuk mencapai target operasi yang aman, efektif, dan efisien. Program-program tersebut terkait dengan proses technical limit untuk optimisasi hari operasi dan Green Mud Drilling terkait kriteria penggunaan material lumpur pemboran yang ramah lingkungan.
Juga dilakukan terobosan pada  Safety Behavior Technical and Competency terkait dengan seleksi personal kontraktor agar sesuai dengan kompetensi teknis yang diperlukan, dan Self-Assessment Auditterkait dengan pelaksanaan pemboran yang tetap mengacu ketentuan teknis dan operasi yang berlaku di internal PHE dan di industri migas.
“Melalui terobosan-terobosan tersebut, PHE WMO bertekad untuk dapat menyelesaikan program pemboran ini secara aman, sesuai dengan tata waktu yang direncanakan, ekonomis dan menghasilkan produksi minyak dan gas bumi sesuai dengan harapan.[rea]

Komentar

?>