Kamis, 19 Januari 2017

Menyemai Harapan di Balik 'Emas Hitam'

Rabu, 21 Desember 2016 23:46:19 WIB
Reporter : Temmy P.
Menyemai Harapan di Balik 'Emas Hitam'
Air bersih untuk warga yang berasal dari dana CSR

Sumenep (beritajatim.com) - Pulau Pagerungan Besar, salah satu pulau dari 216 pulau yang dimiliki Kabupaten Sumenep, sekilas tidak tampak yang berbeda dibanding pulau-pulau lainnya. Dikelilingi laut, dan tidak butuh waktu panjang mengitarinya, karena memang tidak terlalu luas. Namun semua anggapan itu akan sirna, ketika mengenal lebih dekat dengan pulau yang kerap disebut 'Surga Emas Hitam'.

Pulau Pagerungan Besar ini terletak di sebelah timur Pulau Madura dan termasuk dalam gugusan kepulauan Sapeken. Pulau ini berpenduduk kurang lebih 8.000 jiwa. Seperti lazimnya masyrarakat kepulauan, sebagian besar warga di sini bermata pencarian sebagai nelayan. Namun ada kegiatan sampingan yang mereka lakukan selain melaut, yakni berkebun. Warga setempat baru akan 'turun' ke ladang, berkutat dengan singkong atau tanaman lain, hanya ketika musim angin kencang yang membuat mereka harus berhenti melaut.

Kehidupan warga di pulau kecil ini semula biasa-biasa saja. Jauh dari keramaian, jauh dari berbagai fasilitas layaknya yang ada di wilayah daratan. Jalan mulus, listrik, dan air bersih, menjadi sebuah barang mewah kalau tidak bisa disebut sebagai segumpal angan-angan.

Namun kondisi itu mendadak berbalik 180 derajat. Tidak ada satupun yang menyangka, kini pulau yang memerlukan waktu tempuh 16 jam perjalanan laut dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep, kini menjadi pulau yang terang benderang. Pulau dengan jalan mulus. Pulau dengan cadangan air bersih melimpah. Bahkan pulau dengan fasilitas tambahan seperti sarana olah raga yang memadai bagi warga sekitar.

Perubahan mencolok di Pulau Pagerungan Besar itu terjadi sejak ada kegiatan pengeboran migas yang dilakukan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Kekayaan sumber daya alam berupa migas, telah 'menyulap' pulau yang dulu tidak dilirik orang, menjadi sebuah harapan menjanjikan untuk kehidupan lebih baik.

Kangean Energy Indonesia Ltd (KEI), menjadi KKKS yang mengelola lapangan minyak dan gas bumi di Blok Kangean. KEI melakukan kegiatan produksi salah satunya di lapangan Gas Pagerungan Besar. Satu persatu, kehidupan di pulau kecil itupun berubah. Salah satunya, listrik. Operator migas ini menyuplai penuh nyala listrik di Pagerungan Besar. Wajah pulau ini pun berubah bak judul tulisan RA Kartini, 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Tidak adalagi cerita tentang pekatnya malam di Pagerungan Besar sejak hadirnya KKKS. Berganti dengan nyala lampu terang benderang.

Tidak hanya persoalan listrik. Melalui dana corparate Social Responsobility (CSR), Kangean Energy Indonesia juga memberi perhatian penuh pada dunia pendidikan di Pagerungan Besar. Sejak tahun 2012, KEI memberikan bantuan beasiswa bagi siswa SMA dan perguruan tinggi. Tahun ajaran 2015/2016, ada 40 siswa SMA yang mendapatkan beasiswa. Selain itu, KEI juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa setempat mulai semester 1 hingga lulus perguruan tinggi (AKAMIGAS).

Tidak hanya beasiswa. KEI juga memberikan bantuan insentif bagi guru-guru di Pagerungan Besar. Ada 40 guru dari 9 sekolah, mulai SMP, MTs, himgga MI.

"Guru-guru memang mendapatkan perhatian dari perusahaan pengeboran migas, karena guru dianggap sebagai ujung tombak menyadarkan masyarakat dan membentuk SDM yang memadai," kata Nurul Hamzah, mantan Kepala SMPN 2 Pagerungan Besar.

Ia menuturkan, selama 4 tahun lebih dirinya mengabdi sebagai Kepala Sekolah di Pagerungan Besar, ia benar-benar merasakan begitu pedulinya KKKS terhadap dunia pendidikan.

"Bantuan terhadap dunia pendidikan ini luar biasa. Mulai dibangunnya gedung sekolah, bantuan sarana dan prasarana, hingga insentif bagi guru. Kondisi pendidikan disini berangsur membaik sejak kehadiran perusahaan migas ini," tandasnya.

Kepedulian KEI terhadap warga sekitar melalui program tanggung jawab sosial, tidak hanya masalah pendidikan. Namun juga tentang infrastruktur. Jalan-jalan poros di Pagerungan Besar di-paving. Sehingga tidak perlu heran, apabila berkeliling pulau ini, akan mendapati lebih banyak jalan berpaving dibanding beraspal.

Dari berbagai infrastruktur yang dibangun KEI, salah satu yang paling melegakan warga adalah pembangunan tandon air bersih. Kalau dulu untuk mendapatkan air tawar warga harus menampung air hujan, kini cerita itu hanya tinggal kenangan. Warga setempat bisa tersenyum lega, karena hampir di semua pelosok desa, telah dibangun tandon air bersih.

Dengan adanya air bersih yang dibangun KEI, warga tinggal menampungnya di tandon air setiap pagi. Tandon air itu sengaja dibuat di dekat rumah warga, untuk memudahkan warga mengambilnya,

"Setiap malam kami menghidupkan pompa air untuk mengalirkan 50 ribu liter air bersih dari mesin 'water treatment' kami. Sehingga saat pagi hari, sudah ada air bersih yang bisa digunakan warga untuk minum dan memasak," kata Penanggung jawab CSR SKK Migas-KEI, Eka Hardianto.
 
Menurutnya, air bersih yang disediakan itu sesungguhnya berasal dari air laut yang diolah menggunakan teknologi 'refer osmosis'. Teknologi itulah yang menyerap garam yang terkandung di air laut melalui media filternya.

"Untuk pemeliharaan mesin 'water treatment' ini, kami mengeluarkan biaya sekitar Rp 900 juta per tahun. Tapi kami tidak pernah memungut biaya sedikitpun dari warga, karena ini sifatnya pengabdian untuk masyarakat," ucapnya.

Program tanggung jawab sosial perusahaan dari KEI ke warga Pagerungan Besar juga ada yang berbentuk rekreatif, seperti penyediaan sarana olah raga. Di Sapeken, olah raga yang digemari adalah sepak bola dan bola voli. Karena itu, KEI juga membantu peralatan olah raga untuk menunjang kegiatan olah raga warga sekitar wilayah operasi.

"Sekarang voli sudah sangat memasyarakat disini. Hampir tiap sore ada latihan voli, bergantian beberapa klub. Bahkan kami disini juga menggelar turnamen voli. Semuanya mendapat bantuan dari KEI. Yang suka sepakbola juga seperti itu. Pokoknya kegiatan olah raga sekarang ini menjadi hidup," ujar Rustam, salah satu tokoh pemuda setempat.

Kepedulian KEI pada masyarakat sekitar wilayah operasi juga diwujudkan dalam program keagamaan, yakni mendatangkan penceramah pada hari-hari besar agama Islam, hingga ke pelosok desa.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas gizi pada anak-anak, KEI juga memberikan makanan tambahan bagi balita di sekitar daerah operasi. Para kader posyandu pun mendapatkan insentif.

Sementara untuk mendongkrak kualitas perekonomian warga, KEI juga memberikan bantuan pengadaan mesin tempel perahu, pengadaan rumpon, bibit mangga, kelapa hibrida, dan bibit peternakan.

"Semua program yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan ini, baik di Desa Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, dan Sapeken, sifatnya usulan dari masyarakat langsung, melalui musyawarah pembangunan desa, yang kemudian dibawa ke kecamatan, dan diusulkan dalam musyawarah komite program pendukung operasi," pungkas Eka Hardianto. [tem/suf]

Tag : skk migas

Komentar

?>