Minggu, 30 April 2017

Wisata Geoheritage Wonocolo Jadi Ajang Foto di Festival HAM

Kamis, 01 Desember 2016 19:53:19 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Wisata Geoheritage Wonocolo Jadi Ajang Foto di Festival HAM

Bojonegoro (beritajatim.com) - Stand pameran Petrolium Geoheritage Wonocolo dalam ajang Festival Hak Asasi Manusia (HAM) di Kantor Pemkab Bojonegoro menjadi perhatian khusus.

Konsep pameran dengan besutan offroad itu menjadi ajang foto bagi para pengunjung. Di stand milik Pertamina Asset 4 Field Cepu itu memamerkan lokasi offroad yang ada di pengeboran minyak sumur tua di Wonocolo, Kecamatan Kedewan.

Dari segi artistik, perpaduan antara mobil offroad, sepeda motor trail dan sepeda gunung menjadi satu dibawah tiang rig (tripot) pengeboran minyak sumur tua.

Termasuk suguhan sejarah terbentuknya sumur tua melengkapi pengetahuan bagi para pengunjung.

Government and Public Relation Assistant Manager PT Pertamina EP Asset 4, Yuliani sejak pagi terlihat menata merchandise khas Wonocolo di rak yang berada di samping rig (tripot sumur).

Salah satunya, kaos khas Wonocolo dan minyak lantung yang dihasilkan di sumur tua. Minyak lantung tersebut dikemas dalam botol kecil kemudian digunakan sebagai gantungan kunci.

Terlihat beberapa pengunjung dalam acara festival HAM berpose di depan mobil offroad yang disediakan. Mereka juga membaca secara langsung sejarah terjadinya pengeboran tradisional di sumur tua.

"Bagus ada bukunya, bisa membaca langsung sejarahnya," ujar pengunjung yang mendatangi stand Pertamina Asset 4 Field Cepu, Anas Abdul Ghofur, Kamis (1/12/2016).

Seperti diketahui Festival HAM akan digelar hingga besok. Gelaran Festival HAM 2016 diadakan di Kabupaten Bojonegoro mengambil tema "Merayakan Praktik Pancasila ditingkat lokal".

Acara ini merupakan yang pertama kalinya diadakan di daerah setelah dua kali diselenggarakan di Jakarta.

500 peserta hadir dalam kegiatan yang dibuka oleh Sidharto Danusubroto selaku Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.

Tak hanya dihadiri oleh masyarakat sipil, acara ini juga dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, akademisi, pelajar dari berbagai penjuru Indonesia, beberapa tamu undangan dari luar negeri seperti Perwakilan Kota Lund Swedia dan Gwangju Metropolitan City, Korea Selatan.

Festival HAM 2016 diadakan agar menjadi tempat saling bertukar kabar baik tentang praktek-praktek perlindungan HAM itu dilaksanakan. Bojonegoro merupakan contoh nyata bagaimana praktek itu dijalankan.

"Beberapa praktek itu diantaranya perlindungan kelompok minoritas, toleransi antar umat beragama serta Transparansi pengelolaan anggaran," ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Sidharto Danusubroto.

Hal ini, kata dia, bisa jadi contoh baik agar seluruh daerah di Indonesia mulai memuliakan dan melindungi Hak Asasi Manusia. "Andai saja 10% kabupaten di Indonesia seperti Bojonegoro, Kulon Progo, Wonosobo, Lampung Timur maka kita akan melihat perubahan yang lebih baik di Indonesia kedepan," ungkapnya dalam pidatonya sekaligus membuka acara Festival HAM 2016. [uuk/ted]

Komentar

?>