Senin, 27 Februari 2017

Pengembangan Lapangan Terintegrasi PHE WMO Panen Pujian

Kamis, 13 Oktober 2016 08:41:57 WIB
Reporter : Dwi Eko Lokononto
  • Pengembangan Lapangan Terintegrasi PHE WMO Panen Pujian
  • Pengembangan Lapangan Terintegrasi PHE WMO Panen Pujian

Surabaya (beritajatim.com) – Panen pujian. Itulah yang terjadi saat PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di  bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas memulai pengerjaan instalasi platform (anjungan) PHE -24.

Pengerjaan instalasi anjungan lepas pantai Madura itu diawali dengan pemencetan sirine oleh Dirut Pertamina Dwi Soetjipto didampingi Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, Direktur Hulu Pertamina  Syamsu Alam dan Direktur Utama Pertamina Hulu Energi R. Gunung Sardjono Hadi, Rabu (12/10/2016).

Kamis (13/10/2016) hari ini, instalasi anjungan PHE -24 ditargetkan sudah memasang top site yang diangkat menggunakan crine khusus yang ada di kapal Hilong. Meski sempat terhalang cuaca buruk, kegiatan pemasangan jacket dan pemasangan top site anjungan bisa dituntaskan tepat waktu.

Pembangunan anjungan PHE -24 ini merupakan bagian dari tahap pertama proyek pengembangan lapangan terintegrasi terbatas (EPCI-1). Setelah menuntaskan pembangunan anjungan PHE-24, langsung disusul  instalasi anjungan lepas pantai PHE-12 yang juga sudah tiba di lokasi. Dua  fasilitas produksi tersebut akan ditambatkan sekitar 55-70 meter di atas permukaan laut.

Fasilitas produksi migas lapangan terintegrasi ini akan dilengkapi dengan Central Processing Platform 2 (CPP2).  Fasilitas CPP2 akan memulai perjalanan dari lokasi fabrikasi milik PT Gunanusa Utama Fabricators di Cilegon, Banten pada pertengahan Oktober ini. Keseluruhan fasilitas itu diharapkan terpasang semua paling lambat akhir Oktober ini.

Ketiga fasilitas  yang akan dikoneksikan dengan pipa bawah laut dengan panjang sekitar 19,5 km, untuk menyalurkan produksi minyak dan gas bumi dari lapangan PHE-12 dan PHE-24 (terintegrasi). Kegiatan instalasi EPCI-1 yang didukung  PT Timas Suplindo itu diharapkan  tuntas  pada Februari 2017 dan memulai produksi pada kuartal pertama 2017.

“Pengembangan lapangan terintegrasi ini merupakan bagian dari usaha Pertamina untuk meningkatkan kontribusi hingga 40% pada produksi minyak nasional pada tahun 2019. Saat ini Pertamina baru berkontribusi sekitar 23% dari total produksi minyak nasional sebesar 830.000 barel per hari,” ujar Dwi Soetjipto.

Dalam kesempatan tersebut Dwi Soetjipto juga memberikan apresiasi kepada PHE WMO dimana dalam pembangunan proyek terintergarsi  Anjungan PHE-24, PHE-12 dan CPP-2 ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 60% dan mendapat penghargaan dari Dirjen Migas Kementerian ESDM.

Pujian senada dikemukakan oleh Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi. Menurut Amien, sebagai pimpinan SKK Migas pihaknya sangat bergembira atas kerja keras PHE WMO untuk meningkatkan produksi dan kesediaan PHE WMO membangun fasilitas pendukung kegiatan industri migas, termasuk anjungan, pada industri di dalam negeri sesuai dengan Surat Edaran yang dia keluarkan pada 2 Agustus lalu.

“Saya hari ini sangat gembira karena dua hal. Pertama, produksi akan ditingkatkan. Kedua, karena pembangunan anjungan ini diserahkan pada  industri dalam negeri. Terlebih karena desain anjungan dilakukan oleh teman-teman PHE WMO,” kata Amien Sunaryadi.

Sementara itu, Direktur Hulu PT Pertamina (Persero), Syamsu Alam menegaskan, selain untuk meningkatkan kembali produksi, pengembangan lapangan terintegrasi ini sangat penting untuk menunjukkan keandalan Pertamina dalam mengelola lapangan lepas pantai. “Saya ucapkan selamat karena proyek ini dikerjakan tepat waktu dan telah mencatatkan lebih dari 2,6 juta jam kerja selamat (Zero Lost Time Incident),” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi, R. Gunung Sardjono Hadi memaparkan, sesuai target SKK Migas, lapangan terintegrasi ini pada bulan Februari 2017 sudah bisa mengalirkan minyak bumi sekitar 1.000 BOPD dan mencapai puncaknya 2.900 BOPD pada Mei 2017.  “Dari sumur gas bumi diharapkan berproduksi 10 MMSCFD mulai Juni 2017 dan mencapai puncaknya 14,1 MMSCFD pada Juli 2017,” kata  R. Gunung Sardjono Hadi.

Ditambahkan, sebagai bagian dari usaha Pertamina dalam mewujudkan kedaulatan energi nasional, lapangan terintegrasi akan dilanjutkan dengan pembangunan proyek EPCI-2 yang meliputi pembangunan anjungan  PHE-48 dan PHE-7 yang akan dimulai pada awal tahun 2018.

Ditemui terpisah, President/GM PHE WMO Sri Budiyani menambahkan, lewat  proyek EPCI-1, PHE WMO berharap terjadi peningkatan produksi 5-7 ribu barel secara bertahap setiap tiga bulan hingga 5 tahun ke depan. Dengan demikian laju penurunan produksi alamiah di Blok WMO yang rata-rata dalam 3 tahun terakhir mencapai 50-60% per tahun bisa terus ditekan.

"Saat ini melalui program perawatan sumur yang cermat dan optimasi produksi,pada tahun 2016 (s/d bulan Oktober), laju penurunan produksi  alamiah dapat ditahan hingga hanya sekitar 10%.  Kegiatan instalasi anjungan migas lepas pantai pada saat ini, menunjukkan Pertamina mampu bekerja di lepas pantai,” kata Sri Budiyani.

 

Tag : migas phe wmo

Komentar

?>