Berita Redaksi

Kapendam V/Brawijaya Banyak Cerita di Redaksi Beritajatim.com

Kapendam Kol Singgih bersama Dirut Beritajatim.com Ainur Rohim.

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto, SIp, MM bercerita panjang lebar tentang pengalamannya menangani konflik di pedalaman Papua. Salah satu penanganan yang sulit dilupakan adalah tentang ganti rugi penembakan babi di Distrik Muara Tami, Kabupaten Jayapura.

Pengalaman didapatkan saat menjabat Komandan Batalyon Yonif 623 Bhakti Wira Utama (BWU) Banjarmasin. Ketika itu dia ditugasi menjaga perbatasan RI-Papua Nugini.

“Malam-malam anggota kita melihat ada tiga babi yang masuk ke ladang jagung kita. Dikira babi hutan, anggota lalu menembak. Ternyata itu babi milik kepala suku,” tutur Singgih bersama Kaur Mediaonline Kapten Inf Purbo S Prasetyo saat berkunjung ke kantor redaksi Beritajatim.com, Selasa (22/1/2019).

Esok harinya, kepala suku datang ke Markas. Dia meminta ganti rugi sebesar Rp 1 miliar. Sontak Singgih pun kaget. Tapi dia menahan diri dan dengan sabar mengikuti penjelasan-penjelasan kepala suku.

Kol Inf Singgih Pambudi bersama Kapten Inf Purbo S Prasetyo saat berkunjung ke kantor redaksi Beritajatim.com.

“Ternyata kepala suku memiliki hitungan sendiri. Jadi tiga babi yang mati bisa melahirkan puluhan babi, puluhan babi tersebut bisa melahirkan ratusan, selanjutnya ribuan, dan ratusan. Total nilainya 1 miliar rupiah. Mendapat penjelasan seperti itu, saya pun menyanggupi. Saya bilang, pembayaran dilakukan besok,” ujar pria yang juga dosen tidak tetap di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Esok harinya, kepala suku datang lagi untuk menagih uang ganti rugi. Kapendam Singgih bersedia membayar dengan satu syarat. Kepala suku harus juga mengganti kerugian atas ladang jagungnya yang dirusak oleh babi. Kerugian sebesar Rp 3 miliar.

“Saya katakan, jagung yang rusak, biji-bijinya seharusnya bisa ditanam lagi. Hasilnya ditanam lagi, begitu seterusnya. Kalau dihitung, nilainya 3 miliar rupiah. Jadi, saya sanggup membayar Rp 1 miliar asal kepala suku bersedia membayar Rp 3 miliar. Ternyata kepala suku memahami penjelasan saya. Kasus ini pun bisa selesai dengan cukup membayar Rp 500 ribu,” kata Kolonel Singgih.

Dari cerita itu, menurut Singgih, pesan yang diusung adalah pentingnya mengikuti logika suku-suku di pedalaman Papua. Hal itu mutlak diperlukan jika ingin memahami dan menjaga kerukunan di antara perbedaan budaya.

“Awal saya bertugas di Papua, saya belajar makan pinang. Saya sampai muntah-muntah. Tapi itu saya lakukan sebab saya tahu, kebiasaan kepala suku di sana adalah makan pinang. Saya juga belajar bahasa suku tersebut. Hasilnya, ketika bertemu kepala suku, saya bisa berbincang akrab sambil makan pinang,” tutur pria yang pernah terlibat Operasi Pamtas RI-Malaysia tahun 2013.

Kepada dua pimpinan Beritajatim.com, yakni Dirut Ainur Rohim dan Pemred Dwi Eko Lokononto, Kolonel Singgih terus berbagi pengalamannya selama bertugas di Papua. Termasuk juga pengalamannya selama menjadi Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda dalam misi perdamaian di Darfur, Sudan. Kurang lebih juga sama, selama di Sudan, dia menghadapi masalah konflik horizontal di tingkat masyarakat.

Sementara itu, untuk di Jawa Timur, Kolonel yang rajin menulis catatan harian dan menghasilkan beberapa buku ini melihat bahwa potensi konflik tidak terlalu besar. “Masyarakat Jawa Timur sudah cerdas. Perbedaan suku dan budaya di sini bisa disikapi secara arif bijaksana,” ujarnya.

Meski begitu, Kolonel Singgih melihat ada ancaman lain yang tidak kalah serius. “Saat ini, masyarakat diganggu oleh maraknya informasi-informasi bohong alias hoak. Jawa Timur tidak luput dari bahaya ini. Sebab internet dan media sosial sudah sangat familiar,” kata mantan Komandan Distrik Militer Tarakan, Kalimantan Utara itu.

Demi menjaga harmonisasi masyarakat dan ketahanan nasional, Kolonel Singgih berharap media-media di Jawa Timur tidak turut menyebarkan hoak. Justru sebaliknya, media berperan dalam menyajikan kebenaran. “Kami di Pendam V/ Brawijaya siap bersinergi dengan Beritajatim.com untuk menciptakan situasi kondusif, yang ujung-ujungnya memperkuat ketahanan nasional,” katanya.

Pemred Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto menyambut baik harapan dari Kolonel Singgih. “Kami tentu siap bersinergi. Sebagai media telah terverifikasi di Dewan Pers, Beritajatim.com selalu menjaga kode etik jurnalistik. Setiap berita yang ditayangkan selalu telah melalui proses verifikasi,” kata pria yang biasa disapa Luki ini. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar