Berita Migas

Pertamina EP Optimistis Tingkatkan Produksi Migas

Bali (beritajatim.com) – Direktur Operasi & Produksi PT Pertamina EP Chalid Said Salim sampaikan progress produksi TW 3 2019 dan kesiapannya menjawab tantangan produksi Tahun 2020.

“Target Pemboran development di Pertamina EP tahun 2019 mencapai sekitar 100 sumur dengan proyeksi realisasi hingga akhir tahun mencapai 96 sumur,” ujar Chalid.

Awal 2020, Pertamina EP rencana mengawali awal tahun dengan pemboran sumur baru. Sedikitnya ada 5 sumur pengembangan dan 2 sumur eksplorasi. “Ada 7 sumur yang akan di tajak saat awal tahun 2020. Asset 1 Rantau 1 sumur, Asset 3 Jatibarang dan Subang, Asset 5 Bunyu dan Sangasanga. Dan 2 sumur eksplorasi,” urai Chalid.

Lebih lanjut, Chalid menjelaskan bahwa tren peningkatan produksi Pertamina EP ditunjukkan dengan data produksi minyak Pertamina EP per Agustus 2019 mencapai 82.327 BOPD, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Agustus 2018 sebesar 77.248 BOPD. Dan realisasi gas 966 MSCFD per Agustus 2019 lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Agustus 2018 sebesar 1.021 MMSCFD. Sedangkan untuk laba bersih per Agustus sudah mencapai USD 440 Juta.

“Untuk realisasi produksi gas memang lebih rendah dari target, dikarenakan ada lapangan gas di Sumatera Selatan yang perlu dijaga reservoir nya agar sustain dan bisa menambah waktu produksinya. Penurunannya antara 20 hingga 30 MMSCFD. Maka dari itu kami optimalkan produksi gas dari lapangan lainnya,”  jelas Chalid.

Prinsipnya, lanjut Chalid, produksi gas tergantung dari buyer, “Kalau buyer menurunkan permintaan maka serapan produksi gas kami juga menurun. Tapi kami tetap optimis pencapaian produksi gas tahun ini bisa mencapai 100%”, ujarnya.

Sementara itu, Chalid menambahkan bahwa dalam mengelola Perusahaan yang memiliki tantangan sangat tinggi ini, ada konsep Growth & Sustain agar perusahaan bisa bertumbuh dan bertahan. Untuk bertumbuh pihaknya mendapatkan dari project eksplorasi dan untuk bertahan mendapatkan dari mengelola lapangan eksisting.

“Pertumbuhan perusahaan didapatkan dari aktifitas pemboran eksplorasi. Untuk di area Jawa terdapat beberapa 5 temuan eksplorasi yang dikembangkan seperti Bambu Besar, Akasia Bagus, Akasia Maju, Akasia Besar Jati Asri yang berada di Subang – karawang dengan kontribusi sekitar 5000 BOPD. Dan selanjutnya eksplorasi yang baru di area asset 4 seperti misalnya Sumur Wolai dan Morea,” jelasnya.

Sementara untuk pengembangan tahap lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) juga tengah dikembangkan di beberapa lapangan, seperti misalnya penerapan field trial polimer di lapangan Tanjung. “Dari hasil tersebut didapatkan informasi bahwa beberapa sumur monitor yang membaik, watercut menurun dan minyaknya bertambah. Namun masih terus dimonitor,” katanya.

Ke depan akan diterapkan juga di Lapangan lain seperti Lirik dan Sukowati. Untuk sukowati ini mekanismenya akan menggunakan CO2 dari Jambaran Tiung Biru. Untuk itu perlu dilakukan studi terkait jalur ROW, jenis pipa, reservoir dan lainnya. Biaya studi sekitar 12.000 USD yang dilakukan oleh Dirjen Migas dan Lemigas yang hasilnya akan disampaikan sekitar Februari 2020.

“Setelah hasil studi menyatakan layak terhadap semua aspeknya, maka tahapan selanjutnya akan dilakukan Field Trial. Harapannya ketika jambaran tiung biru onstream semua sudah ready dan bisa digunakan untuk meningkatkan produksi sukowati,” pungkas Chalid.

Apabila EOR ini berhasil maka bisa menjadi yang pertama dilakukan di Indonesia. Dan sebaliknya apabila hasil studi menunjukkan tidak ekonomis maka hal tersebut tidak bisa dilanjutkan. Sementara itu, Agus Amperianto, Asset 4 General Manager menyampaikan bahwa Asset 4 siap untuk menjadi bagian dari strategi Growth & Sustain, terutama dari sisi mempertahankan produksi.

“Produksi Sukowati Field saat ini mencapai 9300 BOPD, meningkat hampir 3000 BOPD sejak kami ambil alih 2018 yang lalu, dimana produksi di kisaran 6700 BOPD. Proyeksi kami sampai akhir tahun bisa mencapai 10.000,” ujar Agus.

Tentunya untuk mencapai produksi 10.000 BOPd tersebut ada beberapa inovasi yang telah dilakukan. Utamanya dengan memperhatikan 4 poin prinsip, yaitu; Production Optimalization, Cost Efectiveness, Profit Driven, serta Value Creation.

Di Sukowati Field, salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan melakukan efisiensi salah satunya dengan mengurangi chemical. Dan melalui efisiensi tersebut bisa menghemat hingga Rp. 8 Milyard per tahun. Latar belakang inovasi yang dilakukan adalah Injeksi Chemical PPD yang sudah dilakukan sejak operator lama dengan dosis 300 PPM dan evaluasinya hanya menggunakan data Pigging dan hasil lab test Chemical PPD.

“Dengan inovasi pada sistem evaluasi memakai data Pressure, Pigging, Field & laboratory test kebutuhan Chemical PPD hanya sedikit, yaitu dengan dosis 50 PPM, sehingga Pertamina EP Field Sukowati bisa melakukan penghematan. Total nilai penghematan sekitar 8 Milyar rupiah setiap tahun,” jelas Agus.

Sementara untuk contoh cost efectiveness lainnya misalnya penggunaan gas engine menggantikan diesel engine, kemudian lifting minyak di Salawati Papua Field yang sebelumnya melalui petrogas sekarang direct ke RU 7 Kasim.

“Harapan kami, semua upaya yang kami lakukan dan dukungan dari semua pihak termasuk media, bisa menghasilkan produksi seperti yang dicita-citakan,” pungkas Agus. [rea/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar